Semangat Kurban dari Masjid Al Muhibbin Kota Mojokerto
Di tengah padatnya permukiman Dusun Trenggilis, RW 02 Desa Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, gema Iduladha 27 Mei 2026 tidak hanya terdengar dari lantunan takbir. Ia hidup melalui kerja bersama, gotong royong, dan semangat pengorbanan yang tampak nyata di halaman Masjid Al Muhibbin.
Empat ekor sapi dan enam ekor kambing disembelih pada hari itu. Di bawah terpal sederhana, puluhan warga duduk bersila memotong, memilah, dan menimbang daging kurban. Tidak ada kemewahan, tetapi ada nilai sosial yang sangat besar: kebersamaan.
Ketua panitia, Riyaman, bersama sekitar 25 anggota bekerja sejak pagi. Mereka didampingi jagal profesional agar proses penyembelihan berjalan sesuai syariat sekaligus memperhatikan aspek kebersihan dan keamanan pangan. Nama-nama seperti Mat Darum, Agus, Feri, dan Nanang disebut sebagai bagian dari tim yang membantu pelaksanaan penyembelihan.
Foto-foto yang tampak sederhana itu sesungguhnya memotret wajah asli masyarakat Indonesia: saling membantu tanpa banyak bicara. Sebagian memotong daging, sebagian membersihkan lokasi, sebagian lain menyiapkan pembagian untuk warga. Bahkan di sela pekerjaan berat, suasana tetap cair dan penuh canda.
Secara sosial, kurban bukan hanya ritual menyembelih hewan. Dalam filsafat hukum Islam, kurban mengandung dimensi pengendalian diri, distribusi kesejahteraan, dan pendidikan moral. Allah SWT berfirman:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaan dari kamu-lah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat tersebut menegaskan bahwa inti kurban bukan pada banyaknya hewan atau besarnya biaya, melainkan keikhlasan dan manfaat sosial yang lahir dari ibadah itu.
Dari sisi sosial kemasyarakatan, pembagian daging kurban juga menjadi mekanisme pemerataan sederhana di tengah ketimpangan ekonomi. Pada momen seperti inilah masyarakat kecil dapat merasakan kebahagiaan bersama tanpa membedakan status ekonomi. Nilai ta’awun (tolong-menolong) dan ukhuwah (persaudaraan) hadir secara nyata, bukan sekadar teori.
Kegiatan di Masjid Al Muhibbin juga memperlihatkan pentingnya organisasi sosial tingkat kampung. Dengan peralatan terbatas dan tenaga sukarela, masyarakat mampu mengelola penyembelihan hingga distribusi secara mandiri. Ini menjadi pelajaran penting bahwa kekuatan sosial bangsa sebenarnya berada pada solidaritas warga akar rumput.
Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, tradisi kurban mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendiri. Ada hak orang lain dalam harta yang dimiliki. Ada tanggung jawab sosial yang harus dijaga. Dan ada nilai pengorbanan yang menjadi fondasi kemanusiaan.
Iduladha di Trenggilis akhirnya bukan hanya tentang daging yang dibagikan, tetapi tentang hati yang dipersatukan. (Sup)







