Gantungan Ember dan Rebutan Berkah: Hangatnya Tradisi Maulid di Musholla Fattakhul Ulum
MOJOKERTO — Suasana di dalam Musholla Fattakhul Ulum malam itu begitu riuh dan penuh kehangatan. Rumah ibadah yang terletak di Dusun Sambiroto RT 05 RW 02, Desa Sambiroto, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto ini mendadak padat. Di bawah langit-langit ruang utama, ratusan pasang mata—didominasi oleh anak-anak dengan peci beludru hitam mereka—tidak henti-hentinya mendongak ke atas. Mereka terkesima melihat ratusan ember plastik warna-warni, jajan kemasan, hingga bola sepak yang bergelantungan tepat di atas kepala mereka.
MOJOKERTO — Suasana di dalam Musholla Fattakhul Ulum malam itu begitu riuh dan penuh kehangatan. Rumah ibadah yang terletak di Dusun Sambiroto RT 05 RW 02, Desa Sambiroto, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto ini mendadak padat. Di bawah langit-langit ruang utama, ratusan pasang mata—didominasi oleh anak-anak dengan peci beludru hitam mereka—tidak henti-hentinya mendongak ke atas. Mereka terkesima melihat ratusan ember plastik warna-warni, jajan kemasan, hingga bola sepak yang bergelantungan tepat di atas kepala mereka.
Malam itu, Kamis Kliwon, 10 September 2026, warga setempat berkumpul untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Bagi masyarakat Dusun Sambiroto, perayaan ini bukan sekadar mendengar ceramah agama biasa, melainkan momentum merawat tradisi lokal yang intim dan menggembirakan. Di panggung utama, sebuah baliho besar dengan dekorasi bernuansa emas menegaskan tajuk acara: Pengajian Umum dalam Rangka Maulid Nabi Muhammad SAW bersama pembicara utama, Gus Imam Syafi’i Asyhadi Isma’il.
Keberhasilan jalannya acara yang meriah ini tidak lepas dari kerja keras seluruh warga di bawah komando ketua panitia, Bapak Kasdi. Bersama jajaran panitia dan pengurus musholla, beliau memastikan persiapan teknis—mulai dari koordinasi panggung hingga keamanan ratusan gantungan ember di langit-langit—berjalan matang demi menyuguhkan kenyamanan bagi para jemaah yang hadir.
Daya tarik yang tak kalah magis bagi jemaah cilik yang memadati baris depan adalah jajaran ember-ember yang menggantung itu. Tradisi “ember maulid” atau berkat gantung ini sudah mengakar kuat dalam kebudayaan masyarakat setempat. Setiap kepala keluarga di lingkungan RT 05 bergotong-royong menyumbangkan ember yang diisi penuh dengan sembako, jajanan, atau mainan, lalu dikumpulkan untuk nantinya dibagikan di akhir acara.
“Sengaja datang lebih awal biar bisa duduk paling depan di bawah ember yang ada bolanya,” ujar salah satu anak dengan mata berbinar sambil berbisik kepada temannya yang duduk bersila di lantai musholla.
Bagi anak-anak di Desa Sambiroto ini, pengajian bukan lagi ruang yang kaku atau membosankan. Di tengah lantunan selawat yang menggema di seluruh sudut Sooko malam itu, mereka belajar tentang kecintaan kepada Rasulullah dengan cara yang paling dekat dengan dunia mereka: kebersamaan, kegembiraan, dan tentu saja, hadiah yang dinanti.
Saat Gus Imam Syafi’i mulai memberikan tausiyahnya mengenai akhlak dan keteladanan Nabi Muhammad SAW, anak-anak tersebut mendengarkan dengan saksama di tengah kepungan dekorasi yang meriah. Tradisi ini berhasil menjembatani nilai-nilai spiritualitas luhur dengan kegembiraan kultur lokal khas pedesaan Mojokerto.
Ketika acara mendekati akhir dan doa penutup mulai dibacakan, detak jantung anak-anak di baris depan semakin berdegup kencang. Mereka bersiap untuk membawa pulang tidak hanya berkah spiritual dan ilmu dari pengajian, tetapi juga seember kegembiraan untuk dinikmati bersama keluarga di rumah. Melalui ember-ember yang bergelantungan di Musholla Fattakhul Ulum inilah, ingatan manis tentang hari kelahiran sang Nabi akan terus membekas di memori masa kecil mereka hingga dewasa nanti. (Ris)







