Presiden Resmikan KDMP dan Museum Marsinah di Nganjuk, GRIB Jaya Kerahkan Soliditas Pengamanan dan Penyambutan

Kabupaten Nganjuk menjadi pusat perhatian nasional pada Sabtu, 16 Mei 2026. Presiden Republik Indonesia hadir langsung dalam kunjungan kerja untuk meresmikan KDMP (Koperasi Desa Merah Putih) sekaligus Makam, Museum, dan Monumen Marsinah. Sejak pagi, suasana di sejumlah titik tampak lebih sibuk dari biasanya. Aparat keamanan berjaga. Warga memadati area yang dilalui rombongan presiden. Organisasi kemasyarakatan pun ikut bergerak mengambil peran menjaga situasi tetap tertib dan kondusif. Negara memang selalu terlihat paling hidup ketika presiden turun langsung ke daerah. Jalanan rapi mendadak. Koordinasi lancar mendadak. Sebuah kemampuan administratif yang entah kenapa sering muncul hanya saat kamera nasional datang.
Di tengah agenda kenegaraan tersebut, Dewan Pimpinan Cabang GRIB Jaya Kabupaten Nganjuk menyatakan dukungan penuh terhadap kunjungan Presiden RI. Dukungan itu diwujudkan melalui pengerahan jajaran pengurus dan anggota untuk membantu menjaga ketertiban selama rangkaian kegiatan berlangsung.
Melalui surat bernomor 003/05/V/2026 tertanggal 14 Mei 2026 yang ditandatangani Ketua DPC dan Sekretaris DPC Mariyono, seluruh pengurus DPC, Panglima Satgas, hingga pengurus PAC diminta hadir dalam agenda penyambutan presiden.
Titik kumpul peserta dipusatkan di Gudang Koperasi Sukomoro di sebelah barat Koramil sejak pukul 07.00 WIB. Anggota hadir mengenakan seragam organisasi sebagai bentuk kesiapan dan soliditas internal dalam mendukung kegiatan kenegaraan tersebut.
Ketua DPC GRIB Jaya Kabupaten Nganjuk, H. Jumadi, mengatakan pihaknya berkomitmen menjaga keamanan dan ketertiban selama agenda presiden berlangsung di wilayah Kabupaten Nganjuk.
“Kami dari DPC GRIB Jaya Kabupaten Nganjuk siap mendukung penuh dan menyambut kedatangan Bapak Presiden Republik Indonesia dalam agenda peresmian KDMP serta Museum dan Monumen Marsinah di Kabupaten Nganjuk. Kami juga mengimbau seluruh anggota untuk tetap menjaga ketertiban, keamanan, dan kekompakan selama kegiatan berlangsung,” ujarnya.
Peresmian Museum dan Monumen Marsinah menjadi salah satu agenda yang paling menyita perhatian publik. Nama selama ini dikenal sebagai simbol perjuangan buruh di Indonesia. Peresmian tersebut menghadirkan dimensi sejarah dan sosial yang kuat dalam kunjungan Presiden RI ke Nganjuk.
Di sisi lain, peresmian KDMP menunjukkan upaya pemerintah memperkuat ekonomi berbasis desa melalui koperasi. Dua agenda berbeda itu dipertemukan dalam satu momentum kenegaraan. Satu berbicara tentang penguatan ekonomi rakyat desa. Satu lagi menyentuh memori perjuangan kelas pekerja. Politik Indonesia memang gemar menyatukan sejarah, simbol, dan kepentingan pembangunan dalam satu panggung besar yang dipenuhi spanduk, pengamanan berlapis, dan dokumentasi tanpa henti.
Meski berlangsung di tengah pengamanan ketat dan tingginya antusiasme masyarakat, rangkaian kegiatan di Kabupaten Nganjuk berjalan kondusif. Kehadiran berbagai unsur masyarakat, termasuk organisasi kemasyarakatan seperti GRIB Jaya, menjadi bagian dari upaya bersama menjaga stabilitas selama kunjungan kepala negara berlangsung.
Bagi masyarakat Nganjuk, hari itu bukan sekadar seremoni peresmian. Ada rasa bangga karena daerah mereka menjadi titik perhatian nasional. Ada pula harapan agar pembangunan yang diresmikan benar-benar memberi dampak nyata bagi masyarakat. Sebab rakyat tidak hidup dari pidato dan baliho penyambutan saja. Mereka hidup dari perubahan yang benar-benar terasa setelah rombongan pejabat meninggalkan lokasi. (Anto)






