Pasar Modern Nganjuk: Mewah, Megah, tapi Sepi Bak Museum di Tengah Hutan
Nganjuk, kota penuh kejutan. Setelah sukses menghabiskan anggaran miliaran rupiah demi membangun dua pasar modern yang katanya akan “mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat”, kini kedua pasar itu terbukti sukses—sukses bikin sepi dan bingung siapa yang harus disalahkan.
Di satu sisi, bangunan pasar berdiri gagah seperti mall mini yang salah lokasi. Lampu-lampu terang, keramik mengilap, dan rolling door yang jarang digulung. Tapi siapa sangka, lebih banyak debu daripada pembeli. Kios-kios kosong, lapak menganga, dan hanya segelintir pedagang yang bertahan sambil sesekali mengusir lalat ketimbang melayani pelanggan.
Warga? Ternyata masih lebih betah belanja di pasar tradisional. “Lha wong di sini sepi, ngapain jualan di gedung yang kayak gudang kosong?” celetuk Bu Narti, pedagang sayur yang sudah dua kali boyongan: dari pasar lama ke pasar modern, lalu balik lagi ke pasar lama.
Lucunya, proyek ini sempat digembar-gemborkan sebagai “inovasi cerdas pemerintah daerah” dalam menghadapi tantangan zaman. Tapi entah zaman mana yang dimaksud, karena zaman sekarang justru butuh pasar yang merakyat, bukan yang elite tapi sepi kayak aula kosong.
“Sudah seperti museum, tinggal dikasih pemandu wisata sama tiket masuk,” sindir netizen dalam kolom komentar.
Ironisnya, saat ditanya soal evaluasi, pihak berwenang malah sibuk menjelaskan panjang lebar soal grand design pasar abad 21, lengkap dengan istilah-istilah keren yang bahkan penjual gorengan pun ogah menghafalnya.
Kini dua pasar itu berdiri seperti monumen kesalahan: mahal, megah, tapi miskin fungsi. Rakyat bingung, pedagang merugi, dan pemerintah? Masih percaya bahwa mereka sudah di jalur yang tepat.





