Dua Pasar Modern Nganjuk: Monumen Megah untuk Pengunjung yang Tak Pernah Datang
NGANJUK – Selesai dibangun dengan anggaran bernapas miliaran, dua pasar modern di Kabupaten Nganjuk kini sukses mencetak prestasi baru: jadi bangunan mewah berlabel “museum belanja tanpa pembeli.” Pasar Kertosono dan Lengkong berdiri gagah, namun disapa lebih banyak angin ketimbang langkah kaki pembeli.
Bayangkan, kios-kios berderet rapi, rolling door bersih, lampu menyala terang, tapi hanya nyamuk dan suara tukang sapu yang jadi musik latar harian. Pedagang yang bertahan bisa dihitung jari. Salah satunya Pak Roni yang sudah 50 tahun jualan, kini justru merasa seperti jaga pos jaga bukan kios jualan.
“Dagangan saya sepi, Mas. Bisa duduk saja sudah untung,” kata Pak Roni, tampak lebih dekat ke pensiun daripada ke pembeli.
Hebatnya lagi, sewa gratis, retribusi nihil—tapi tetap tidak laku. Mungkin ini satu-satunya tempat bisnis di dunia yang biayanya nol, tapi omset juga nol. “Kalau ndak ada yang beli, mau bayar apa?” keluh pedagang lain sambil menunjuk kios kiri-kanan yang kosong seperti lapangan voli.
Tapi tenang, ini semua bagian dari visi jangka panjang. Pemerintah tidak diam. Mereka sibuk—mungkin sibuk cari pembeli yang mau masuk ke pasar modern yang tak terjamah ini. Atau sibuk rapat tentang bagaimana mengatasi sepi tanpa menyebut kata ‘salah perencanaan’.
Sementara itu, warga lebih memilih pasar tradisional yang becek, berdesakan, dan bau ikan—karena setidaknya, di sana ada pembeli.
Kritik Solutif?
Mungkin saatnya Dinas Perdagangan belajar satu hal penting dari rakyat: pasar bukan soal cat tembok dan keramik mahal, tapi soal keramaian dan kepercayaan. Jika tidak mau jadi ‘meme nasional’, solusi nyata perlu segera lahir—bukan sekadar papan nama dan seremoni gunting pita.
Sudut Interaktif:
Apa pendapatmu soal pasar modern sepi ini? Haruskah direnovasi ulang… jadi tempat wedding outdoor saja?
#PasarSepi #NganjukModernMuseum #MilyaranTanpaPeminat #SatireNganjuk #BeritaLucuTapiNyata





