Pagar Laut Tak Rugikan Negara? Mungkin Lautnya Juga Ikut Bingung
JAKARTA –
Di antara gelombang ombak dan deru angin laut Tangerang, berdirilah pagar. Bukan pagar rumah, bukan pula pagar hati—tapi pagar laut. Dan kini, pagar itu bukan cuma membelah laut, tapi juga membelah logika masyarakat.
Kasus ini sempat menghebohkan publik, mulai dari harganya yang bikin kapal pesiar pun minder, hingga keberadaannya yang lebih cocok jadi latar sinetron distopia. Namun, dalam pernyataan yang mengejutkan sekaligus mencengangkan, Bareskrim Polri menyebut:
“Tak ada kerugian negara dalam kasus pagar laut Tangerang.”
Tentu saja, publik pun lega—karena ternyata uang negara masih utuh. Hanya saja, pagar yang katanya untuk pengamanan laut itu justru membikin bingung nelayan, ahli tata ruang, dan mungkin bahkan ikan-ikan.
Kalangan pengamat pun mulai bertanya-tanya:
Jika pagar itu dibangun dari dana publik, di atas laut milik publik, untuk tujuan yang belum tentu publik rasakan manfaatnya—lalu siapa yang sebenarnya diuntungkan? Tapi tentu saja ini hanya pertanyaan iseng dari rakyat kecil yang tak paham mekanisme besar pengelolaan negara.
Sebagian masyarakat juga mulai bertanya:
Bagaimana mungkin sesuatu yang dibangun, dibayar, tapi tidak berguna, bisa dinyatakan tak merugikan? Mungkin definisi “kerugian negara” perlu diperbarui:
- Asal tidak ada yang kabur ke luar negeri, bukan kerugian.
- Asal kuitansi masih ada, bukan kerugian.
- Asal masyarakat sudah lupa, ya apalagi… bukan kerugian.
Pihak Kepolisian pun menyarankan untuk “melihat secara proporsional.”
Mungkin benar juga. Dalam skala kosmik, pagar laut ini hanya seperti pasir di pantai: ada atau tidak, tetaplah laut luas tak terukur.
Namun bagi rakyat yang membayar pajak dari sego kucing dan angsuran sepeda motor, pagar ini terasa seperti potret nyata:
Proyek negara bisa tembus logika, asal surat-suratnya lengkap dan tanda tangannya basah.
Di negeri ini, keadilan bisa jadi fleksibel. Seperti pagar di laut—kadang tampak, kadang tenggelam. Yang penting: tidak dianggap merugikan. Walau yang rugi mungkin bukan negara, tapi rasa percaya rakyat yang sudah lama karam.





