Di Balik Fosil dan Jejak Peradaban, Hutan Tritik Menyimpan Kemenyan Putih Langka
Di lereng-lereng hutan lindung Desa Tritik, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, waktu seolah berjalan lebih lambat. Selama bertahun-tahun kawasan ini dikenal sebagai lokasi temuan fosil gajah purba, fosil kerang laut, pecahan gerabah kuno, hingga guci Cina yang diduga berasal dari abad ke-13.
Namun di balik jejak sejarah dan prasejarah itu, Hutan Tritik ternyata menyimpan rahasia lain yang tak kalah menarik: ratusan pohon kemenyan putih yang tumbuh alami dan diduga telah berusia lebih dari satu abad.
Temuan itu bukan hasil penelitian yang dirancang khusus. Ia berawal dari langkah-langkah kecil para pegiat sejarah dan lingkungan yang menyusuri hutan untuk mencari peninggalan masa lalu.
Pada 2024 lalu, anggota Komunitas Pecinta Sejarah dan Ekologi Nganjuk (KOTASEJUK) menemukan pohon-pohon besar dengan getah berwarna putih mengkilat menyerupai kristal.
Awalnya mereka tidak menyangka bahwa temuan tersebut memiliki nilai ekologis dan ekonomi yang tinggi.
“Di hutan ini sebelumnya sering ditemukan fosil gajah purba, fosil kerang, sampai gerabah dan guci Cina abad ke-13,” tutur Suswanto, anggota KOTASEJUK.
Saat melakukan penelusuran itulah perhatian mereka tertuju pada pohon yang mengeluarkan kristal getah berwarna putih.
Untuk memastikan temuannya, sampel getah kemudian diuji secara sederhana dengan cara dibakar. Asap yang muncul mengeluarkan aroma khas kemenyan yang selama ini dikenal dalam berbagai tradisi budaya dan keagamaan.
“Seperti getah kemenyan. Biasanya yang banyak kemenyan cokelat, tapi ini putih,” kata Suswanto.
Sejak saat itu, pohon-pohon tersebut mulai didata dan diberi penanda agar tidak ditebang atau dirusak.
Antara Harapan dan Kehati-hatian
Menurut pendataan awal yang dilakukan komunitas tersebut, terdapat sekitar 300 batang pohon yang diduga merupakan kemenyan putih di kawasan hutan lindung Tritik.
Sebagian pohon memiliki diameter mendekati satu meter dengan perkiraan usia antara 100 hingga 150 tahun.
Temuan itu tentu menarik perhatian. Namun dalam konteks ilmiah, identifikasi spesies secara pasti tetap memerlukan penelitian botani yang lebih mendalam. Hal ini penting untuk memastikan jenis tanaman, karakteristik biologis, serta status konservasinya.
Yang sudah dapat dipastikan saat ini adalah keberadaan pohon penghasil resin beraroma khas tersebut telah menarik perhatian berbagai pihak, termasuk pengelola kawasan hutan.
KOTASEJUK mengaku telah berkoordinasi dengan pihak pengelola hutan karena kawasan tersebut berada di bawah pengelolaan BKPH Tritik.
Kekhawatiran juga muncul setelah beberapa pohon ditemukan dalam kondisi rusak dan diduga mengalami pembakaran oleh pihak yang belum diketahui.
“Baru-baru ini tim dari PeFI Cepu sudah turun langsung melakukan penelitian kemenyan putih di Hutan Tritik. Kami berharap ada langkah pelestarian yang lebih serius agar tanaman langka tersebut tetap terjaga,” ujar Suswanto.
Bukan Sekadar Pohon, Tetapi Jejak Ekologi Masa Lampau
Temuan kemenyan putih menjadi semakin menarik karena muncul di kawasan yang selama ini dikenal sebagai “gudang” temuan sejarah dan geologi.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Nganjuk, Gunawan Widagdo, melihat keberadaan pohon tersebut sebagai potensi yang perlu diteliti dan dilestarikan lebih lanjut.
Saat meninjau langsung lokasi, ia menemukan fakta menarik bahwa selain pohon hidup, terdapat pula temuan fosil yang berkaitan dengan keberadaan kemenyan di masa lampau.
“Saya sudah cek sendiri ke lokasi. Jadi ada keunikan di hutan lindung ini, ada tanaman unik kemenyan putih. Bahkan ada fosil kemenyan juga sudah ditemukan di sini. Artinya kemenyan ini sudah ada ratusan bahkan ribuan tahun lalu,” ujarnya.
Pernyataan tersebut membuka kemungkinan bahwa kawasan Tritik bukan hanya penting sebagai hutan lindung, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan sejarah panjang perubahan lingkungan di wilayah Nganjuk.
Nilai Ekonomi dan Tantangan Konservasi
Di berbagai negara, resin kemenyan dikenal sebagai komoditas bernilai tinggi. Produk turunannya digunakan dalam industri parfum, kosmetik, aromaterapi, hingga kebutuhan ritual dan budaya.
Indonesia sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu produsen kemenyan dunia, terutama dari wilayah Sumatera Utara yang menjadi sentra utama produksi resin kemenyan.
Karena itu, keberadaan pohon-pohon kemenyan di Pulau Jawa menarik perhatian tersendiri.
Namun para pemerhati lingkungan mengingatkan bahwa potensi ekonomi tidak boleh menjadi alasan untuk mengeksploitasi tanaman yang belum diketahui secara pasti jumlah populasi dan tingkat kerentanannya.
Hutan Tritik saat ini menyajikan sebuah pelajaran penting: bahwa kekayaan alam tidak selalu berupa tambang, emas, atau batu mulia. Kadang ia hadir dalam bentuk pohon-pohon tua yang selama puluhan bahkan ratusan tahun tumbuh diam-diam di tengah hutan.
Di sana, di antara fosil gajah purba, pecahan keramik kuno, dan jejak peradaban masa lalu, kemenyan putih berdiri sebagai saksi bahwa alam menyimpan banyak cerita yang belum sepenuhnya terungkap. (Red)
Kini tantangannya bukan lagi menemukan “harta karun” itu, melainkan memastikan ia tetap lestari untuk generasi yang akan datang.





