Ancaman di Jalur Gondang-Lengkong: Retakan Jalan Kian Menganga, Warga Khawatir, Respon Pihak Berwenang Dipertanyakan
Nganjuk – Sebuah pemandangan yang mengkhawatirkan menyelimuti ruas jalan Gondang-Lengkong, tepatnya di sekitar Sempayang, Ja’an, Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk. Retakan lebar dan dalam terlihat membelah badan jalan, menimbulkan spekulasi dan kecemasan serius di kalangan warga dan pengguna jalan. Kerusakan yang terpotret pada Sabtu pagi, 26 Oktober 2025, ini menjadi penanda jelas adanya pergerakan tanah di kawasan perbukitan tersebut.
Dari hasil pengamatan visual di lokasi, khususnya pada titik koordinat Lat: $-7.53646$, Lng: $112.02610$ (Jl. Gondang – Lengkong) hingga Lat: $-7.53654$, Lng: $112.02735$ (Sempayang, Ja’an), terlihat retakan beton yang menganga lebar. Di beberapa titik, retakan bahkan telah ambles dan membentuk jurang kecil, menelan material jalan dan memperlihatkan rongga kosong di bawahnya. Kondisi ini mengindikasikan adanya pergeseran atau amblesnya struktur tanah penyangga, yang berpotensi memicu bencana longsor yang lebih besar.
Tanda Peringatan Darurat Minim, Pekerja dan Pejabat Belum Terlihat
Meskipun kondisi jalan sudah sangat membahayakan, tanda peringatan darurat yang terpasang terlihat sangat minim, hanya berupa bendera-bendera plastik merah dan hijau yang dipasang seadanya.
Yang menjadi sorotan utama adalah belum adanya aktivitas penanganan fisik di lokasi pada saat pengambilan gambar. Tidak terlihat satu pun pekerja dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), alat berat, atau petugas lapangan yang bertanggung jawab melakukan perbaikan atau setidaknya menjaga keamanan area. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai kesiapsiagaan dan respon cepat dari Pemerintah Kabupaten Nganjuk.
“Retakan ini makin besar setiap hari, apalagi kalau malam ada mobil atau truk lewat,” ujar seorang warga setempat. “Kami pasang bendera ini sebisanya, biar tidak ada yang celaka. Tapi sampai sekarang, petugas dari Pemda belum kelihatan di sini.”
Minimnya Keterangan Resmi Memperparah Kekhawatiran
Selain nihilnya kehadiran petugas di lapangan, hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak berwenang terkait, baik dari Kepala Desa setempat, Camat Gondang, maupun perwakilan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) atau Dinas PUPR Kabupaten Nganjuk.
Ketiadaan keterangan resmi ini justru menambah kekhawatiran warga. Mereka merasa terancam dengan potensi longsor, mengingat riwayat Nganjuk sebagai daerah rawan bencana geologi, di mana retakan tanah sering menjadi pertanda awal bencana besar.
Mendesak, Pemerintah Kabupaten Nganjuk diminta untuk segera menurunkan tim teknis untuk melakukan kajian geologis, menutup sementara jalur yang rusak parah untuk keselamatan publik, dan memberikan pernyataan resmi mengenai langkah mitigasi dan perbaikan yang akan segera dilakukan. Keselamatan pengguna jalan dan warga sekitar harus menjadi prioritas utama.
Laporan: Sugeng







