Ketika Dapur Makin Sepi, Gawai Makin Ramai: Wajah Kerentanan Baru Keluarga Indonesia
Oleh: Redaksi
Setiap pagi, Rudi (42), seorang pekerja harian, berangkat dengan harapan mendapat panggilan kerja. Namun, beberapa bulan terakhir penghasilannya terus menurun. Sementara itu, harga kebutuhan pokok, biaya sekolah, listrik, hingga cicilan terus meningkat.
Di rumah, istrinya mulai mengurangi pembelian lauk bergizi. Daging yang dulu hadir beberapa kali dalam sepekan kini hanya menjadi menu bulanan. Susu anak diganti minuman yang lebih murah. Di sisi lain, kedua anak mereka justru semakin lama menghabiskan waktu di depan telepon genggam karena kedua orang tuanya sibuk mencari tambahan penghasilan.
Kisah tersebut merupakan gambaran praksis dari kerentanan yang kini dihadapi banyak keluarga Indonesia.
Laporan Harian Kompas mengungkapkan bahwa tekanan ekonomi akibat kenaikan biaya hidup tidak hanya meningkatkan risiko kemiskinan, tetapi juga menurunkan kualitas pengasuhan, memperbesar konflik keluarga, dan memperdalam kesenjangan sosial apabila tidak direspons dengan kebijakan yang memadai.
Kemiskinan Tidak Selalu Dimulai dari Tidak Punya Uang
Dalam investigasi lapangan, pola yang muncul relatif seragam.
Penghasilan menurun.
Pengeluaran meningkat.
Tabungan habis.
Utang mulai digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok.
Konflik rumah tangga meningkat.
Anak kehilangan perhatian.
Media sosial menjadi “pengasuh” baru.
Tanpa disadari, keluarga memasuki lingkaran kerentanan.
Ekonom dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Tony Prasetiantono, berulang kali mengingatkan bahwa ketika daya beli masyarakat melemah, dampaknya tidak hanya berhenti pada sektor ekonomi, tetapi merembet pada stabilitas sosial dan kesejahteraan keluarga. Penurunan konsumsi rumah tangga merupakan indikator penting melemahnya ketahanan ekonomi masyarakat.
Psikolog keluarga Rose Mini Agoes Salim menjelaskan bahwa tekanan ekonomi merupakan salah satu pemicu utama konflik dalam rumah tangga. Ketika orang tua mengalami stres berkepanjangan, kualitas komunikasi dan pola pengasuhan kepada anak sering ikut menurun.
Media Sosial Menjadi Pelarian
Ironisnya, ketika kondisi ekonomi semakin berat, penggunaan media sosial justru semakin tinggi.
Anak mencari hiburan.
Orang tua mencari pelarian.
Sebagian keluarga bahkan terdorong mempertahankan gaya hidup yang tampak “normal” melalui utang konsumtif hanya karena tekanan sosial di dunia digital.
Praktisi literasi digital dari Siberkreasi menilai bahwa rendahnya literasi digital membuat masyarakat mudah membandingkan kehidupan nyata dengan pencitraan di media sosial. Akibatnya, tekanan psikologis dan beban ekonomi semakin besar.
Negara Tidak Cukup Hadir Saat Krisis
Para ahli menilai bahwa ketahanan keluarga tidak cukup dibangun melalui nasihat agar masyarakat hidup hemat.
Yang lebih penting adalah terciptanya lapangan kerja, pengendalian inflasi pangan, perlindungan sosial yang tepat sasaran, pendidikan keuangan keluarga, serta layanan kesehatan mental yang mudah diakses.
Tanpa intervensi tersebut, tekanan ekonomi akan berubah menjadi krisis sosial yang lebih luas.
Hakikatnya
Kemiskinan bukan sekadar kosongnya dompet.
Ia dimulai ketika harapan mulai hilang.
Ketika orang tua terlalu sibuk bertahan hidup sehingga kehilangan waktu mendampingi anak.
Ketika utang menjadi makanan sehari-hari.
Ketika komunikasi digantikan oleh layar telepon.
Di situlah keluarga mulai rapuh.
Dan ketika keluarga rapuh, sesungguhnya fondasi bangsa ikut melemah. (Ais)





