22 Calon Pengantin Positif HIV: Ketika Cinta Bertemu Fakta yang Tak Selalu Terlihat
Feature Kesehatan dan Sosial
SIDOARJO — Di balik undangan pernikahan, foto prewedding, dan rencana membangun rumah tangga, ada sebuah kenyataan yang tidak selalu tampak di permukaan.
Hingga awal Juni 2026, sebanyak 22 calon pengantin di Kabupaten Sidoarjo terdeteksi positif HIV. Dari jumlah tersebut, 12 orang laki-laki dan 10 orang perempuan. Data itu diungkap oleh Yayasan Delta Crisis Center (DCC) Sidoarjo berdasarkan pendampingan dan deteksi yang dilakukan terhadap calon pengantin.
Angka 22 mungkin terdengar kecil di tengah populasi jutaan penduduk. Namun bagi para pemerhati kesehatan masyarakat, angka itu menyimpan pertanyaan yang jauh lebih besar.
Berapa banyak yang belum terdeteksi?
Fenomena Gunung Es
Direktur Program DCC Sidoarjo, Ferry Efendi, menyebut temuan tersebut sebagai bagian dari fenomena “gunung es”. Dalam epidemiologi, istilah itu menggambarkan kondisi ketika kasus yang terlihat hanyalah sebagian kecil dari jumlah sebenarnya yang ada di masyarakat.
Masalahnya bukan sekadar pada angka 22 orang.
Masalah yang lebih mendasar adalah bahwa pemeriksaan HIV bagi calon pengantin belum menjadi syarat wajib. Banyak calon pengantin hanya menjalani pemeriksaan kesehatan umum, sedangkan tes HIV masih bersifat sukarela. Akibatnya, seseorang dapat memasuki jenjang pernikahan tanpa pernah mengetahui status kesehatannya sendiri.
Di sinilah letak ironi modern.
Di era ketika teknologi mampu menghubungkan manusia lintas benua dalam hitungan detik, masih ada orang yang tidak mengetahui virus yang hidup dalam tubuhnya selama bertahun-tahun.
Bukan Soal Moral, Tetapi Soal Kesadaran
HIV sering kali masih dipandang melalui kacamata stigma.
Padahal secara medis, HIV adalah penyakit yang dapat dikendalikan melalui terapi antiretroviral (ARV). Banyak orang dengan HIV mampu hidup sehat, bekerja, menikah, bahkan memiliki anak yang lahir tanpa HIV apabila mendapatkan pengobatan dan pendampingan yang tepat.
Karena itu, isu utama sebenarnya bukanlah menyalahkan penderita.
Yang lebih penting adalah membangun kesadaran untuk melakukan deteksi dini.
Sebab seseorang yang tidak mengetahui dirinya terinfeksi justru memiliki risiko lebih besar menularkan virus kepada pasangan dibanding mereka yang telah mengetahui statusnya dan menjalani pengobatan.
Ketika Pernikahan Menjadi Titik Penting Pencegahan
Bagi sebagian orang, pernikahan adalah awal kehidupan baru.
Namun bagi dunia kesehatan masyarakat, pernikahan juga merupakan momentum penting untuk mencegah penularan HIV dalam keluarga.
Menurut DCC, apabila pasangan mengetahui status HIV sejak sebelum menikah, maka edukasi, pendampingan medis, terapi ARV, hingga langkah-langkah pencegahan lainnya dapat dilakukan lebih awal. Risiko penularan kepada pasangan dapat ditekan secara signifikan.
Karena itulah keterbukaan dan pemeriksaan kesehatan pranikah memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar memenuhi administrasi pernikahan.
Angka yang Mengingatkan
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo menunjukkan jumlah kasus HIV/AIDS yang terdeteksi telah mencapai sekitar 7.129 kasus hingga April 2026. Angka tersebut meningkat dibanding akhir tahun sebelumnya.
Di balik setiap angka, terdapat manusia.
Ada suami, istri, anak, pekerja, mahasiswa, dan calon pengantin yang sedang mempersiapkan masa depan.
Karena itu, persoalan HIV tidak cukup dipandang sebagai isu kesehatan semata. Ia juga menyangkut pendidikan, keterbukaan informasi, keberanian melakukan pemeriksaan, dan kemampuan masyarakat menghapus stigma.
Sebuah Pertanyaan untuk Kita Semua
Temuan 22 calon pengantin positif HIV di Sidoarjo bukanlah kabar yang patut ditanggapi dengan cemoohan.
Justru kabar itu mengajukan pertanyaan yang lebih penting:
Apakah kita sudah cukup peduli terhadap kesehatan sebelum menikah, atau kita masih merasa semua baik-baik saja selama tidak ada gejala?
Sebab dalam banyak kasus HIV, yang paling berbahaya bukanlah virus yang terdeteksi.
Melainkan virus yang sudah ada, tetapi belum diketahui keberadaannya. (Red)





