Peringati Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-62, Rutan Nganjuk Hadirkan Aksi Kemanusiaan Lewat Donor Darah
Di sebuah pagi yang tenang di halaman Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Nganjuk, suasana tampak berbeda dari hari-hari biasa. Sabtu (25/04/2026) itu, semangat kemanusiaan justru menjadi denyut utama, mengalir seiring tetes demi tetes darah yang didonorkan.
Momentum Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-62 dimaknai lebih dari sekadar seremoni. Jajaran Rutan Nganjuk memilih menghadirkannya dalam aksi nyata—menggelar kegiatan donor darah bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia Kabupaten Nganjuk. Sebuah langkah sederhana, namun sarat makna: memberi kehidupan bagi sesama.
Sejak pagi, para pegawai, mulai dari Kepala Rutan, pejabat struktural, hingga CPNS dan peserta magang, tampak berbaris tertib. Mereka mengikuti alur yang telah disiapkan—pendaftaran, pemeriksaan kesehatan, hingga proses donor yang ditangani tim medis profesional. Tidak ada raut cemas, yang terlihat justru antusiasme dan kesadaran bahwa apa yang mereka lakukan hari itu bisa menjadi penentu harapan hidup orang lain.
Bagi Arief Budi Prasetya, kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin. Ia melihatnya sebagai refleksi dari wajah pemasyarakatan yang lebih humanis.
“Melalui donor darah ini, kami ingin menunjukkan bahwa pemasyarakatan bukan hanya soal pembinaan warga binaan, tetapi juga tentang kepedulian sosial. Kami ingin hadir dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Di balik tembok tinggi dan sistem pengamanan yang ketat, Rutan Nganjuk berupaya menegaskan perannya sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri. Donor darah menjadi simbol bahwa nilai kemanusiaan tidak mengenal batas ruang—bahkan dari dalam institusi yang selama ini identik dengan pembinaan dan penegakan hukum.
Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjawab kebutuhan riil di lapangan. Ketersediaan stok darah di daerah kerap menjadi persoalan krusial, terutama dalam kondisi darurat medis. Melalui kolaborasi dengan PMI, kontribusi kecil dari para petugas pemasyarakatan ini menjelma menjadi harapan besar bagi mereka yang membutuhkan.
Di akhir kegiatan, bukan hanya kantong-kantong darah yang terkumpul. Ada pula semangat solidaritas yang menguat, rasa kebersamaan yang tumbuh, dan kesadaran bahwa pengabdian tidak selalu harus dalam bentuk besar. Kadang, cukup dengan setetes darah, seseorang telah menyelamatkan kehidupan.
Hari itu, Rutan Nganjuk tidak hanya menjalankan fungsi kelembagaan. Ia hadir sebagai ruang yang menghidupkan nilai kemanusiaan—senyap, namun bermakna.







