Ketika Kelas Digusur Sunyi: Dua Ruang Belajar SDN 1 Ngablak dan Ironi Pembangunan Desa
Di sebuah sudut Desa Ngablak, Kabupaten Kediri, papan tulis kini tak lagi berdiri tegak di dalam kelas. Atap dibuka, tembok dibongkar sebagian, dan suara murid kelas II terpaksa berpindah ke teras kantor sekolah. Dua ruang kelas SDN 1 Ngablak terdampak. Bukan oleh banjir atau gempa, melainkan oleh sesuatu yang ironis: pembangunan ekonomi desa.
Program itu bernama Koperasi Merah Putih—sebuah ikhtiar nasional yang digadang-gadang menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan. Namun di Ngablak, koperasi justru “lebih dulu belajar” di atas ruang pendidikan dasar.
Secara administratif, lahan sekolah berdiri di atas tanah kas desa. Secara hukum, ini memberi ruang tafsir. Secara praktik, tafsir itu menjelma jadi palu dan linggis yang lebih cepat bekerja dibanding musyawarah dengan guru, orang tua, dan murid.
Tidak ada penolakan terbuka. Tidak ada keributan. Yang ada hanyalah kelas yang sunyi, berpindah tempat, dan anak-anak yang belajar sambil menyesuaikan diri. Pendidikan, sekali lagi, diminta mengerti.
Satirnya, negara sering mengajarkan bahwa pendidikan adalah prioritas. Namun di lapangan, pendidikan kerap menjadi pihak yang “paling bisa menunggu”. Ekonomi harus bergerak cepat. Koperasi harus berdiri. Soal anak-anak belajar di mana—itu nanti bisa dicari solusi darurat.
Padahal hukum berkata lain. Hak atas pendidikan dijamin konstitusi. Fasilitas sekolah bukan sekadar bangunan, melainkan ruang tumbuh masa depan. Jika pembangunan desa berdampak langsung pada ruang kelas, maka yang terganggu bukan hanya tembok, tetapi hak dasar anak.
Kasus SDN 1 Ngablak bukan soal anti-koperasi. Ini soal urutan prioritas. Soal keberanian bertanya: mengapa ruang belajar yang harus mengalah lebih dulu? Mengapa anak-anak yang harus beradaptasi, bukan perencana kebijakan?
Pembangunan sejati seharusnya tidak membuat murid belajar di teras, sementara papan proyek berdiri gagah. Jika desa ingin maju, pendidikan tidak boleh menjadi korban yang paling sunyi.
Karena sejarah mencatat, bangsa besar bukan lahir dari koperasi yang cepat berdiri, tetapi dari kelas-kelas kecil yang dijaga dengan penuh tanggung jawab. (Red)





