Ketika Pikiran Mulai Retak: Catatan Sunyi dari Bumi Panjalu
Kabupaten Kediri kerap digambarkan sebagai tanah yang subur. Padi tumbuh, jalan beraspal memanjang, dan angka-angka pembangunan bergerak naik di laporan resmi. Namun di sudut lain yang jarang disorot, ada angka yang juga tumbuh—pelan, sunyi, dan nyaris tak terdengar: jumlah orang dengan gangguan jiwa berat.
Hingga akhir 2025, lebih dari 3.500 warga Bumi Panjalu tercatat hidup dengan beban yang tak kasatmata. Mereka bukan sekadar statistik. Mereka adalah rumah-rumah yang lampunya tetap menyala, tetapi penghuninya berjalan dalam lorong pikirannya sendiri.
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri mencatat, pada akhir 2024 terdapat 3.531 warga yang didiagnosis skizofrenia dan psikotik akut. Setahun kemudian, jumlah itu bertambah menjadi 3.599 orang—naik 68 kasus. Angka itu mungkin terlihat kecil di tabel, tetapi di dunia nyata, ia berarti 68 keluarga baru yang harus belajar memahami sunyi, amarah, dan kebingungan.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri dr Ahmad Khotib, melalui Kabid P2P dr Bambang Triyono Putro, tekanan ekonomi menjadi salah satu pemantik utama. Ketika dompet menipis, beban hidup menumpuk, dan harapan kian mahal, pikiran sering kali menjadi bagian pertama yang runtuh.
Gangguan jiwa berat di Kediri ibarat retakan pada dinding rumah. Awalnya kecil, nyaris tak diperhatikan. Namun ketika hujan datang bertubi-tubi—PHK, utang, harga kebutuhan pokok, dan ketidakpastian masa depan—retakan itu melebar. Suatu hari, dinding yang tampak kokoh tiba-tiba roboh.
Ironisnya, banyak dari mereka hidup di tengah masyarakat, tetapi terasa jauh. Stigma menjadikan gangguan jiwa seperti bisikan yang harus disembunyikan. Pengobatan terputus-putus, pendampingan minim, sementara keluarga dipaksa menjadi benteng terakhir tanpa bekal yang cukup.
Angka ODGJ yang terus bertambah seakan menjadi alarm kebakaran yang berbunyi pelan. Tidak memekakkan telinga, tapi cukup untuk mengingatkan: ada sesuatu yang tidak beres. Bahwa pembangunan yang hanya menghitung beton dan aspal, tanpa menimbang kesehatan jiwa, berisiko meninggalkan manusia di belakangnya.
Di Bumi Panjalu, persoalannya bukan semata tentang berapa banyak yang sakit, melainkan seberapa siap kita merawat yang rapuh. Sebab kesehatan jiwa bukan sekadar urusan medis—ia adalah cermin kesejahteraan sosial.
Dan ketika angka itu terus naik, pertanyaannya sederhana namun menohok: apakah kita sedang membangun daerah yang kuat, atau hanya membiasakan diri hidup berdampingan dengan luka yang kita anggap biasa?





