Mobil Siaga Desa Meluncur ke Tempat Wisata, Warga Hanya Bisa Melambaikan Tangan dari Puskesmas
NGANJUK –
Mobil Siaga Desa, yang seharusnya menjadi harapan terakhir warga ketika kontraksi datang tengah malam atau saat demam tinggi menyerang anak-anak di pelosok desa, kini justru diduga beralih fungsi menjadi kendaraan rekreasi. Iya, betul. Bukan ambulans darurat, tapi angkutan liburan.
Kasus ini mencuat di Kabupaten Nganjuk, ketika warganet berspekulasi bahwa mobil siaga yang dibeli dari uang rakyat tersebut malah tampil gagah di area wisata. Bukan di depan rumah warga yang sedang butuh pertolongan, melainkan di spot-spot swafoto nan estetik. Kamera boleh 13 MP, tapi kepekaan sosial entah megapiksel ke berapa.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) pun angkat suara, dengan nada pasrah sekaligus filosofis:
“Ya sak repotan mas, apakah itu digunakan kadernya atau digunakan untuk kendaraan pribadi.”
Sebuah pernyataan yang terdengar seperti: “Kami juga bingung, mas.”
Padahal, yang bingung itu mestinya warga. Terutama mereka yang harus boncengan tiga naik motor ke puskesmas, karena mobil siaga sedang “cuti pelayanan”.
Kendaraan yang harusnya standby untuk kebutuhan warga seperti mengantar orang sakit, ibu melahirkan, atau urusan mendesak lainnya, justru malah nyelonong ke lokasi wisata. Mungkin sang sopir ingin menunjukkan bahwa desa juga bisa healing—bukan hanya dari luka, tapi juga dari fungsi pelayanan publik.
Namun, jangan salah. Tidak ada yang menyalahkan kalau liburan itu penting. Hanya saja, mungkin kurang tepat jika dilakukan bersama kendaraan yang disubsidi dari APBDes dan ditujukan untuk nyawa. Apalagi kalau sampai ada yang berswafoto sambil caption: “Bersama Mobil Siaga, Menyusuri Indahnya Alam.”
Di negeri yang kadang kala terlalu fleksibel antara fasilitas publik dan urusan pribadi, mobil siaga kini menjadi simbol:
Ketika pelayanan publik terasa seperti wacana, dan liburan pejabat desa justru terasa lebih terprogram.
Warga? Tetap bersabar. Karena mobil siaga bisa saja hilang dari halaman balai desa, tapi tidak dari anggaran tahunan.





