“Pesta Para Penjaga Negeri”
Di sebuah negeri yang katanya makmur, pejabat dan aparatnya hidup dalam kemewahan yang tak terbantahkan. Rumah mereka berdiri megah bagai istana, dengan pilar-pilar tinggi yang lebih kokoh dari kepercayaan rakyat kepada mereka. Kendaraan yang mereka kendarai adalah cerminan kesuksesan; bukan karena kerja keras, tetapi karena keahlian luar biasa dalam “mengelola anggaran.”
Di sisi lain, rakyat sibuk mengumpulkan recehan demi bertahan hidup, tapi para penjaga negeri ini malah sibuk menghitung koleksi mobil mewah. “Lamborghini warna merah atau emas untuk tahun depan ya?” ujar salah seorang pejabat sambil menikmati makan malam di restoran bintang lima, dengan harga satu porsi setara gaji setahun seorang buruh.
Tentu saja, pesta-pesta mewah ini bukanlah hasil dari “penyalahgunaan wewenang.” Oh tidak, mereka menyebutnya “pengelolaan cerdas.” Konon, semua itu diperoleh dengan keringat mereka—keringat rakyat yang diperas tanpa ampun.
Ketika ditanya tentang sumber kekayaan yang luar biasa itu, mereka dengan rendah hati berkata, “Semua ini berkat doa rakyat dan kepercayaan kepada kami.” Ya, kepercayaan yang entah sejak kapan berubah menjadi ketakutan untuk bersuara.
Ironisnya, di saat negeri ini ramai dengan keluhan tentang jalan berlubang, banjir, dan pendidikan yang memprihatinkan, para pejabat kita sibuk memilih destinasi liburan mewah berikutnya. “Eropa terlalu biasa. Bagaimana kalau ke Antartika? Belum banyak orang ke sana!”
Tentu saja, mereka juga rajin beribadah. Karena bagaimana pun, surga harus dikejar, meski di dunia mereka sudah mencicipi versi mini dari segala kenikmatan itu.
Jadi, mari kita beri tepuk tangan meriah kepada para penjaga negeri ini. Mereka bukan hanya pandai mengatur negeri, tetapi juga ahli dalam seni “menikmati hidup”—seni yang rakyat kecil hanya bisa saksikan dari layar televisi yang berdebu.





