Pembangunan Bendungan Bagong di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang bertujuan untuk meningkatkan ketahanan air dan pangan di wilayah tersebut. Proyek ini direncanakan dengan anggaran sebesar Rp1,6 triliun, yang dialokasikan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Pelaksanaan konstruksi Bendungan Bagong dimulai pada 27 Desember 2018 dan dibagi menjadi dua paket pekerjaan. Paket I dikerjakan oleh kontraktor PT Abipraya-PT SACNA (KSO), sementara Paket II dilaksanakan oleh PT PP-PT Jatiwangi (KSO). Bendungan ini didesain dengan tipe urugan zonal dengan inti tegak, memiliki tinggi puncak 82 meter dan panjang 620 meter.
Namun, proyek ini menghadapi berbagai kendala yang menghambat penyelesaiannya. Salah satu masalah utama adalah lambatnya proses pembebasan lahan. Hingga Oktober 2024, pembebasan lahan belum mencapai 50%, yang berdampak signifikan pada progres konstruksi. Selain itu, kondisi geologis area pembangunan, seperti tanah koluvial, menambah kompleksitas teknis dalam konstruksi bendungan.
Selain kendala teknis dan administratif, pembangunan Bendungan Bagong juga menimbulkan dampak lingkungan bagi masyarakat di hilir sungai. Material sisa konstruksi yang terbawa arus telah menyebabkan pendangkalan sungai di Desa Ngares, mengakibatkan banjir yang merendam permukiman warga. Kondisi ini telah memicu keluhan dari masyarakat setempat yang merasa dirugikan oleh proyek tersebut.
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, pemerintah dan kontraktor berkomitmen untuk menyelesaikan pembangunan Bendungan Bagong. Bendungan ini diharapkan dapat memberikan manfaat signifikan, termasuk penyediaan irigasi untuk 867 hektare lahan pertanian, penyediaan air baku sebesar 153 liter per detik untuk Kecamatan Pogalan dan Trenggalek, serta pengurangan risiko banjir hingga 78,44% di wilayah tersebut.
Dengan penyelesaian yang tepat waktu dan penanganan kendala yang efektif, Bendungan Bagong diharapkan dapat menjadi solusi komprehensif dalam pengelolaan sumber daya air di Kabupaten Trenggalek, mendukung pertanian lokal, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.





