Orang Beriman, Rezeki, dan Kewajiban Bekerja: Antara Keyakinan dan Usaha
Dalam Islam, konsep rezeki sering dikaitkan dengan ketentuan Allah. Namun, keyakinan bahwa Allah telah menetapkan rezeki tidak berarti manusia boleh berpangku tangan tanpa usaha. Pertanyaan dari buku “Jika Tuhan Mengatur Rezeki Manusia, Mengapa Kita Harus Bekerja?” mengandung nuansa filsafat teologis yang menarik: jika rezeki sudah ditetapkan, apakah usaha manusia masih relevan?
1. Konsep Rezeki dalam Islam
Al-Qur’an menegaskan bahwa rezeki adalah bagian dari ketentuan Allah:
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya…” (QS. Hud: 6).
Namun, ayat ini tidak berarti manusia harus pasrah tanpa usaha. Justru, Islam mengajarkan konsep ikhtiar (usaha) sebagai bagian dari sunatullah. Rezeki yang telah Allah tetapkan tetap harus dijemput dengan kerja keras.
2. Hubungan Antara Iman dan Usaha
Sifat orang beriman mencerminkan keseimbangan antara tawakal (berserah diri) dan ikhtiar (berusaha). Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi).
Hadis ini menegaskan bahwa burung tetap harus terbang dan mencari makan, bukan hanya diam menunggu rezeki turun dari langit.
3. Kekeliruan Logika Fatalisme dalam Rezeki
Jika seseorang beranggapan bahwa karena rezeki sudah ditetapkan maka ia tidak perlu bekerja, ia terjebak dalam fallacy of fatalism—kesalahan berpikir bahwa segala sesuatu akan terjadi tanpa usaha.
Dalam hukum sebab-akibat, bekerja adalah jalan yang Allah tetapkan untuk mendapatkan rezeki. Ini mirip dengan konsep kesehatan: Allah telah menentukan umur seseorang, tetapi itu tidak berarti orang boleh sembarangan merusak tubuhnya.
4. Rezeki dan Etos Kerja: Prinsip dalam Islam
Islam menekankan kewajiban bekerja dengan berbagai dalil:
- “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah.” (QS. Al-Jumu’ah: 10).
- “Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari).
Bekerja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga bentuk ibadah dan menjaga martabat manusia agar tidak menjadi beban bagi orang lain.
Kesimpulan: Mengapa Orang Beriman Tetap Harus Bekerja?
- Rezeki memang ditetapkan oleh Allah, tetapi manusia tetap harus berusaha untuk menjemputnya.
- Tawakal yang benar bukan pasrah tanpa usaha, melainkan bekerja keras sambil tetap percaya kepada ketentuan Allah.
- Bekerja adalah bentuk ibadah, etika kehidupan, dan bagian dari hukum sebab-akibat yang ditetapkan Allah.
- Menolak bekerja dengan alasan “rezeki sudah diatur” adalah bentuk kesalahan logika yang bertentangan dengan ajaran Islam.





