Ketika Angka Turun, Cerita Tak Selalu Usai: Membaca Pengangguran Kediri dan Makna “Pengangguran Absolut”
Kediri – Angka pengangguran sering kali dibaca sebagai kabar baik atau buruk hanya dari satu indikator: persentase. Ketika angkanya turun, publik kerap menyimpulkan bahwa kondisi lapangan kerja membaik. Namun, benarkah realitas selalu sesederhana itu?
Di Kabupaten Kediri, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tahun 2025 berada di angka 4,71 persen, turun dibandingkan tahun 2024 sebesar 5,10 persen dan 2023 sebesar 5,79 persen. Secara statistik, ini adalah tren positif: persentase pengangguran menurun.
Namun di balik persentase, terdapat cerita lain yang tak kalah penting untuk dipahami.
Pengangguran: Persentase vs Jumlah Orang
BPS mengukur pengangguran dengan konsep Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), yaitu perbandingan antara jumlah penganggur dengan total angkatan kerja. Artinya, ketika jumlah angkatan kerja meningkat pesat, persentase pengangguran bisa turun meskipun jumlah orang yang menganggur secara absolut tidak berkurang, atau bahkan bertambah.
Di sinilah konsep yang sering disebut “pengangguran absolut” menjadi relevan.
Apa Itu Pengangguran Absolut?
Istilah pengangguran absolut merujuk pada jumlah orang yang tidak bekerja secara nyata, bukan persentasenya. Konsep ini menjadi perhatian publik setelah disampaikan oleh Anies Baswedan dalam sejumlah pernyataan publiknya.
Anies menjelaskan bahwa:
“Persentasenya bisa turun, tapi jumlah orang yang menganggur justru bertambah, karena angkatan kerja membesar.”
Menurutnya, membaca pengangguran hanya dari persentase berisiko menutupi kenyataan di lapangan, terutama ketika:
Banyak pekerja terkena PHK,
Lulusan baru (fresh graduate) terus bertambah,
Dan lapangan kerja formal tumbuh lebih lambat dibanding pertumbuhan angkatan kerja.
Pernyataan ini bukan penolakan terhadap data statistik, melainkan ajakan untuk membaca data secara lebih utuh.
Kediri: Turun Persentase, Naik Tantangan
Di Kediri, penurunan TPT 2025 memang patut diapresiasi. Namun, pada saat yang sama, terdapat kenaikan signifikan jumlah pekerja di sektor informal. Pada 2024, jumlah pekerja informal tercatat sekitar 504 ribu orang, dan pada 2025 meningkat menjadi lebih dari 530 ribu orang.
Kenaikan ini menunjukkan bahwa:
Banyak warga tetap bekerja, namun
Masuk ke sektor informal, seperti pekerja lepas, pedagang kecil, ojek, buruh harian, atau usaha mikro.
Sektor informal memang menyerap tenaga kerja, tetapi sering kali:
Tidak memiliki kepastian pendapatan,
Tidak terlindungi jaminan sosial,
Rentan terhadap gejolak ekonomi.
Inilah yang sejalan dengan peringatan Anies bahwa turunnya pengangguran tidak selalu berarti kualitas pekerjaan membaik.
Antara “Surga Data” dan “Realitas Lapangan”
Dalam salah satu pernyataannya, Anies menyebut adanya jarak antara “angka di laporan” dan “cerita di kehidupan sehari-hari”:
“Di data terlihat turun, tapi di lapangan orang masih bilang susah cari kerja.”
Pernyataan ini mencerminkan pengalaman banyak masyarakat, termasuk di daerah-daerah seperti Kediri, di mana:
Pekerjaan tersedia,
Tetapi sering kali tidak sesuai keahlian,
Upah rendah,
Atau bersifat sementara.
Pelajaran Penting bagi Publik
Dari Kediri dan perdebatan soal pengangguran absolut, ada beberapa pelajaran penting:
1. Data BPS tetap sah dan penting
Persentase pengangguran adalah indikator resmi dan valid.
2. Namun, data perlu dibaca secara komprehensif
Jumlah penganggur, kualitas pekerjaan, dan dominasi sektor informal sama pentingnya.
3. Pengangguran bukan hanya soal “ada kerja atau tidak”
Tetapi juga soal layak atau tidaknya pekerjaan.
4. Kebijakan publik seharusnya tidak berhenti pada penurunan angka
Melainkan berlanjut pada penciptaan pekerjaan formal yang berkelanjutan.
Kediri mencatat kemajuan dengan turunnya tingkat pengangguran. Namun, sebagaimana diingatkan oleh konsep pengangguran absolut, angka yang membaik tidak otomatis meniadakan tantangan. Di balik statistik, masih ada pekerja informal yang berjuang tanpa kepastian, lulusan baru yang mencari celah, dan keluarga yang menggantungkan harapan pada pekerjaan yang lebih layak.
Membaca pengangguran dengan jujur berarti menghargai data sekaligus mendengar suara lapangan. Karena pada akhirnya, tujuan pembangunan ketenagakerjaan bukan sekadar menurunkan persentase, tetapi memastikan setiap orang punya pekerjaan yang bermartabat. (Red)





