Jembatan Semampir: Lansia yang Dipaksa Angkat Barbel Tronton
Kediri, edu-politik.com — Usia boleh 33 tahun, tapi Jembatan Semampir di Kediri seperti atlet tua yang masih dipaksa tanding angkat beban kelas super-heavyweight. Bedanya, yang diangkat bukan barbel, melainkan truk-truk raksasa bermuatan entah berapa ton. Hasilnya? Lantai jembatan kini lentur, bergeser, dan mengeluh lewat retakan-retakan kecil yang tak bisa disembunyikan.
Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jatim-Bali menyebut, penyebab utama lendutan adalah beban kendaraan besar. Kalau diibaratkan manusia, Jembatan Semampir sudah masuk usia pensiun, tapi masih diminta lembur tiap hari tanpa cuti. Layak saja “punggung”-nya pegal.
Namun faktor umur bukan satu-satunya masalah. Tanah fondasi ikut rapuh, sambungan renggang, dan struktur bawah seperti sendi yang keropos. Di dunia manusia, ini sudah mirip gejala osteoporosis. Bedanya, kalau manusia bisa terapi, jembatan butuh rehabilitasi serius—dan itu bukan sekadar minum kalsium.
Ironisnya, sejak dibangun tahun 1992, jembatan ini jarang disorot. Baru ketika perutnya melesak dan napasnya megap-megap dilalui kendaraan berat, barulah semua pihak heboh. Seakan-akan jembatan hanyalah “pegawai kontrak” yang baru diperhatikan menjelang ambruk.
Yang lebih menarik: solusi yang ditawarkan pemerintah adalah pembatasan tonase. Pertanyaan satirnya: mengapa baru sekarang? Kalau dari dulu ada batas tegas, mungkin Jembatan Semampir bisa tetap tegak gagah, bukan bungkuk renta.
Sementara itu, warga hanya bisa berharap jembatan segera direhabilitasi, sebelum kisah Semampir masuk rubrik “obituari infrastruktur”. Sebab, sebagaimana pepatah politik yang sering kita dengar: bangsa yang lupa merawat jembatannya, akan dipaksa belajar darurat di tengah kemacetan.






