Hitam Putih Kota Kediri: Kota di Antara Pilihan dan Harapan
Hitam… Putih…
Seperti kehidupan manusia, Kota Kediri menyimpan dua sisi—sejarah yang panjang dan masa kini yang dinamis. Kota ini bukan hanya sekadar titik di peta, tetapi juga ruang di mana manusia berproses, memilih jalannya—baik atau buruk, terang atau gelap.
“Mau memilih dia baik… atau memilih untuk jadi jahat,” demikian kutipan puisi yang terdengar lirih di salah satu pojok ruang pameran di Museum Airlangga. Bait itu tak hanya bicara tentang manusia, tetapi juga tentang kota. Tentang bagaimana sebuah tempat bisa tumbuh dalam kebaikan atau tenggelam dalam keserakahan.
Kota Kediri, meski memiliki sejarah dan kebudayaan yang kaya, tak terhindar dari tantangan sosial dan ekonomi. Salah satunya adalah masalah kemiskinan yang masih melanda sebagian besar penduduk, terutama di kawasan pinggiran kota. Meskipun ada banyak usaha pemerintah untuk mengurangi angka kemiskinan, data menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di Kota Kediri masih cukup tinggi dibandingkan dengan kota lainnya di Jawa Timur. Banyak dari penduduk kota ini yang bergantung pada sektor informal, seperti menjadi Pedagang Kaki Lima (PKL), yang menjadi sumber penghidupan utama bagi sebagian besar keluarga.
Namun, keberadaan PKL ini seringkali berbenturan dengan kebijakan pembangunan kota yang terus berkembang. Penggusuran PKL menjadi salah satu solusi yang dipilih oleh pemerintah Kota Kediri untuk menciptakan ruang publik yang lebih tertata dan teratur. Meskipun demikian, tindakan penggusuran sering menimbulkan ketegangan sosial, karena banyak dari PKL ini yang sudah bertahun-tahun berdagang di lokasi tersebut dan kesulitan mencari tempat baru yang lebih strategis. Bagi mereka, ini bukan sekadar masalah tempat berjualan, tetapi juga mengenai kelangsungan hidup keluarga mereka.
Di balik itu semua, Kota Kediri tetap memiliki daya tarik budaya yang kuat. Candi Tegowangi, Patung Ganesha, dan Gunung Kelud yang megah menyimpan sejarah panjang yang tak lekang oleh waktu. Sungai Brantas yang mengalir di tengah kota pun memberikan nuansa yang sejuk dan menenangkan, meskipun tidak terhindar dari permasalahan sampah dan pengelolaan lingkungan yang masih perlu perhatian lebih.
Tapi ini bukan soal takdir.
Karena Tuhan tidak pernah menciptakan manusia—atau kota—untuk jadi jahat.
Yang ada adalah keputusan-keputusan, kesadaran kolektif, dan langkah-langkah kecil yang menentukan arah.
Meski Kota Kediri menghadapi tantangan berat, harapan untuk perbaikan terus ada. Kampung Inggris Pare yang terkenal sebagai pusat pendidikan bahasa Inggris terbesar di Indonesia tetap menarik perhatian ribuan pelajar dari seluruh penjuru tanah air. Begitu pula sektor pertanian dan industri kecil, seperti tembakau dan tahu, yang tetap menjadi bagian penting dari ekonomi kota ini.
Kota Kediri terus berusaha untuk membangun infrastruktur, menciptakan lapangan pekerjaan, dan menanggulangi masalah kemiskinan. Meskipun jalan yang dilalui tidak selalu mulus dan penuh tantangan, warga Kediri terus berusaha memperbaiki kehidupan mereka, beradaptasi, dan berjuang untuk masa depan yang lebih baik.
Karena pada akhirnya…
manusia lah yang memiliki jalan hidupnya sendiri-sendiri.
Dan Kota Kediri, meskipun penuh tantangan, tetap memilih untuk berjalan menuju cahaya harapan, berjuang di tengah bayang-bayang hitam dan putih kehidupan yang penuh pilihan.





