“Direksi BUMN Dilarang Main Golf, Istri Dilarang Jadi Komisaris Bayangan”
Akhirnya, revolusi datang—bukan dari demonstran jalanan, tapi dari ruang rapat yang bosan dengan gaya sultan.
Jakarta – Di negeri yang begitu mencintai simbol status, akhirnya muncul satu suara waras dari kursi empuk Danantara. Chief Operating Officer Dony Oskaria tampil bak reformis dalam drama BUMN versi terbaru. Dalam diskusi yang lebih terasa seperti sesi detoks budaya, Dony menyampaikan lima larangan yang bisa bikin banyak direksi megap-megap: dilarang main golf saat jam kerja, dilarang bawa ajudan seperti presiden kecil, dilarang berutang budi, dilarang ditekan (kecuali oleh KPI), dan yang paling mencengangkan—istri dilarang ikut mengatur kantor.
Ya, benar. Kantor, menurut Dony, bukan warisan keluarga. Sebuah pernyataan revolusioner di era di mana “yang penting istri senang” bisa jadi prinsip manajemen.
Golf: Olahraga atau Rapat Tertutup?
Selama ini, banyak rakyat menduga bahwa keputusan besar diambil di lapangan golf, bukan di ruang direksi. Tapi menurut Dony, main golf di hari kerja tak lebih dari latihan memukul kepercayaan publik. Dan dengan dilarangnya aktivitas ini, siapa tahu para direksi akhirnya benar-benar belajar membaca laporan keuangan daripada scorecard golf.
Ajudan Banyak, Hasil Minim
Direksi BUMN selama ini kadang tampil seperti selebritas Korea yang butuh pengawalan 7 orang untuk jalan ke pantry. Tapi, dengan larangan protokoler berlebihan, kita mungkin akan melihat pemandangan langka: bos BUMN yang bisa buka pintu sendiri dan bawa tas sendiri—sebuah kemajuan evolusi organisasi yang layak mendapat standing ovation.
Istri, Tolong Jangan Ikut RUPS
Menurut Dony, keputusan kantor bukan menu arisan. Jadi, istri direksi tidak perlu ikut menentukan warna taplak ruang rapat, atau siapa yang duduk di kursi sekretaris direksi. “Kantor bukan warisan keluarga,” tegas Dony, mungkin setelah melihat terlalu banyak keputusan besar dibuat di antara hidangan sop buntut dan kue basah.
Hilang Budaya Feodal, Hadir Etika Profesional
Dalam upaya mencuci bersih nama BUMN dari cap sebagai taman bermain elite, Dony memperkenalkan langkah-langkah yang—kalau dijalankan serius—bisa membuat “direksi gaya sultan” masuk museum. Danantara ingin memunculkan sosok pimpinan yang bukan hanya canggih dalam Zoom meeting, tapi juga rendah hati di warung kopi.
Akhir Kata: Stop Gaya Sultan, Start Gaya Kerja
Jadi, jika Anda saat ini seorang direksi BUMN yang sedang baca ini di lapangan golf, sambil dikawal dua ajudan dan istri Anda sedang ikut presentasi divisi HR—mungkin ini saatnya rehat, bukan karena Anda lelah, tapi karena rakyat mulai sadar: BUMN bukan kerajaan, direksi bukan raja, dan etika bukan sekadar seminar.
Revolusi tidak harus berdarah. Kadang cukup larangan main golf dan istri yang tahu diri.





