“Damai di Bawah Bayang-Bayang Kejahatan: Kasus Dokter PPDS Bandung yang ‘Diselesaikan dengan Kekeluargaan'”
Bandung, 10 April 2025 – Ternyata, kekerasan dalam dunia medis tidak hanya terjadi di ruang rumah sakit atau ruang perawatan intensif. Terkadang, kekerasan itu juga terjadi di luar ruang praktek, pada tempat yang seharusnya menjadi pelindung bagi pasien—dan yang kali ini memalukan: kekerasan seksual yang dilakukan oleh seorang dokter PPDS di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Namun, setelah badai berita mencuat, ternyata semua bisa diselesaikan dengan cara baik-baik. Tidak perlu panjang lebar, tidak perlu sidang, hanya damai kekeluargaan dan semuanya kembali normal.
Priguna Anugerah Pratama, seorang dokter PPDS yang terjerat dalam kasus pemerkosaan keluarga pasiennya, bisa dibilang mengalami sebuah “kebangkitan spiritual” yang sangat menginspirasi. Setelah pelaku dilaporkan ke Polda Jabar, sang kuasa hukum, Fredy Rizky Adilya, dengan penuh percaya diri melaporkan bahwa semuanya sudah damai. Ternyata, keluarga korban memutuskan untuk mencabut laporan polisi (LP). Dan seperti drama kehidupan, kasus besar ini pun hampir bisa diselesaikan dengan kata “maaf” dan pertemuan kekeluargaan.
Fredy, dalam penjelasannya yang tenang dan penuh rasa tanggung jawab (sekali lagi, dalam dunia hukum), menyebutkan bahwa meskipun laporan sudah dicabut, Priguna tetap akan bertanggung jawab. Tentu saja, sebagai seorang dokter yang terhormat, meski perbuatannya tidak bisa disangkal, tetap ada batasan tanggung jawab moral yang harus diambil. Salah satunya adalah dengan menghormati pernikahan yang mungkin sudah retak akibat perbuatan tersebut.
Namun, jangan salah paham. Fredy pun meminta masyarakat untuk tidak menghakimi. Pasalnya, seperti yang dia katakan dengan penuh kebijaksanaan, “Keluarga korban tidak bersalah dan tidak turut serta dalam permasalahan ini.” Ini adalah kalimat bijak yang luar biasa—dimana salah satu pelaku kejahatan merasa perlu mengingatkan kita untuk tidak memperpanjang drama yang tidak perlu. Lebih dari itu, ia meminta kita untuk tidak menyebarkan identitas pribadi dari para pelaku dan keluarga mereka—karena siapa yang ingin tahu lebih banyak tentang keluarga pelaku, kan?
Lalu, bagaimana dengan Priguna? Ah, Priguna yang sekarang menjadi sosok yang sangat menyesal. Dengan penuh perasaan, dia mengungkapkan bahwa dia telah meminta maaf kepada korban dan keluarga, dan berjanji akan menjadikan kejadian ini sebagai “pelajaran berharga” yang tidak akan terulang. Seperti halnya seseorang yang baru saja tersadar dari tidur panjang, Priguna pun bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik setelah kejadian ini—tentu setelah “berdamai” dengan keluarga korban. Ah, kedamaian yang tiba-tiba hadir setelah perkara besar selesai dengan satu jabat tangan!
Yang tak kalah menarik adalah kisah “penyesalan” Priguna, yang menurut Dirkrimum Polda Jabar, Kombes Surawan, sempat merasa malu kepada keluarga atas tindakan keji tersebut. Bahkan, saking tertekannya, Priguna sempat mencoba bunuh diri—sebuah tindakan yang mungkin akan dikenang sebagai simbol dari betapa beratnya menjadi dokter yang salah langkah.
Tentu, kita harus memberikan penghargaan kepada pihak yang berusaha “menyelesaikan dengan damai”—sebuah pilihan yang sangat mulia, meskipun tidak sedikit orang yang menganggap bahwa ini adalah bentuk penghindaran dari hukuman sebenarnya. Apakah ini sebuah contoh dari keberhasilan sistem hukum yang memprioritaskan penyelesaian secara kekeluargaan, ataukah hanya cara untuk menghindari kesulitan hukum dengan bermain di ranah moralitas dan kedamaian?
Bagaimanapun, kasus Priguna telah memberikan pelajaran berharga bagi kita semua: dalam dunia hukum, kadang salah itu bisa selesai dengan damai, yang penting ada kata “maaf” dan permohonan maaf. Sehingga, bagi sebagian orang, mungkin sudah cukup dengan itu—dan untuk yang lain, kebenaran akan selalu menunggu di ujung sana.





