Apakah Orang Awam Berdosa Jika Menerima Jawaban Keliru dari Ahli Ilmu dalam Masalah Agama?
Kediri, 12 Februari 2025 — Dalam permasalahan agama, seringkali orang awam yang tidak memiliki pengetahuan mendalam bertanya kepada ahli ilmu untuk mendapatkan jawaban yang benar. Namun, pertanyaan yang sering muncul adalah, apakah orang awam berdosa jika jawaban yang diberikan ternyata keliru? Menanggapi hal ini, Ivana Kusuma, seorang praktisi ilmu agama, menjelaskan dengan pendekatan yang logis dan berdasarkan prinsip agama.
Menurut Ivana Kusuma, seseorang yang bertanya kepada ahli ilmu yang bisa dipercaya dan mendapatkan jawaban keliru, tidak akan berdosa. Hal ini berdasar pada Surah An-Nahl: 43, yang mengarahkan umat Islam untuk bertanya kepada orang yang berilmu jika tidak mengetahui suatu hal. Dalam konteks ini, orang awam telah melaksanakan kewajibannya untuk mencari ilmu dengan bertanya kepada sumber yang dapat dipercaya.
Kusuma menambahkan bahwa orang awam yang bertanya dan mengikuti jawaban dari ahli ilmu yang dapat dipercaya tidak akan dihukum atau berdosa jika jawabannya keliru. Pasalnya, orang tersebut telah berusaha maksimal untuk mencari pengetahuan yang benar. “Dalam hal ini, mereka sudah menjalankan upaya terbaik mereka,” ungkap Kusuma.
Namun, yang lebih penting adalah sikap dan tanggung jawab ahli ilmu. Menurut Kusuma, jika seorang ahli ilmu memberikan jawaban yang keliru karena terburu-buru tanpa cukup pertimbangan, maka ahli ilmu tersebut dapat dianggap berdosa. Namun, jika kesalahan itu tidak disengaja dan terjadi setelah berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan jawaban yang benar, ahli ilmu tersebut tidak akan berdosa. Malahan, menurut hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, jika seorang hakim berijtihad dan salah, ia tetap mendapatkan pahala karena usaha yang telah dilakukan.
Dalam hal ini, niat dan usaha yang maksimal menjadi faktor penentu dalam menilai apakah kesalahan dalam memberikan jawaban adalah suatu dosa atau bukan. Bagi orang awam, yang terpenting adalah bahwa mereka sudah berusaha dengan baik, yaitu bertanya kepada ahli ilmu yang bisa dipercaya. Bagi ahli ilmu, kesalahan dalam memberikan jawaban tidak otomatis menjadi dosa, asalkan itu bukan karena kelalaian atau ketidaksengajaan.
Di akhir penjelasannya, Kusuma mengingatkan bahwa konteks usaha maksimal dan niat baik sangat penting dalam setiap proses pencarian ilmu. Hal ini mengajarkan umat Islam untuk tidak mudah menyalahkan orang lain, baik itu orang awam yang bertanya ataupun ahli ilmu yang memberikan jawaban, selama keduanya sudah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran.
Referensi:
- Fatâwâ ‘Ulamâ` al Balad al Ḥarâm, Dr. Khalid bin Abdurrahman al Juraisi
- Hadits riwayat Bukhari dan Muslim
Dengan pemahaman ini, diharapkan masyarakat semakin sadar akan pentingnya mencari ilmu dengan cara yang tepat dan bertanggung jawab, baik bagi yang bertanya maupun bagi yang memberikan jawaban.





