Dari Ruang Pelatihan Menuju Dunia Kerja, 60 Warga Nganjuk Disiapkan Hadapi Industri

NGANJUK – Enam puluh warga Kabupaten Nganjuk memasuki tahap baru menuju dunia kerja. Melalui Pelatihan Kerja Industri yang digelar Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Nganjuk, para peserta dibekali keterampilan praktis agar lebih siap menghadapi kebutuhan dunia industri.
Kegiatan tersebut resmi dibuka pada Rabu (19/8/2026) pukul 09.00 WIB di Aula Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Nganjuk.
Pelatihan ini menggunakan anggaran Dana Alokasi Umum (DAU) Tahun Anggaran 2026 dan diberikan secara gratis kepada seluruh peserta. Selama 15 hari, mereka akan mendapatkan pembekalan keterampilan yang diarahkan pada kebutuhan dunia kerja dan standar industri.
Kepala Disnaker Kabupaten Nganjuk Itsna Shofiani, S.T., M.T., mengatakan program tersebut merupakan salah satu bentuk komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat.
“Pelatihan ini diselenggarakan sepenuhnya gratis menggunakan anggaran DAU 2026 untuk memberikan pembekalan dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia industri saat ini,” ujar Itsna.
Ia berharap 60 peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian pelatihan dengan sungguh-sungguh sehingga setelah menyelesaikan pembekalan mereka memiliki bekal untuk memasuki dunia kerja maupun mengembangkan peluang usaha secara mandiri.
Bukan Sekadar Pelatihan
Pelatihan kerja memiliki arti penting di tengah persaingan mendapatkan pekerjaan yang semakin membutuhkan kompetensi.
Ijazah saja tidak selalu cukup. Dunia industri membutuhkan tenaga kerja yang mampu bekerja secara disiplin, teliti, cepat beradaptasi, memahami standar kerja, serta memiliki keterampilan teknis sesuai bidang yang dibutuhkan.
Karena itu, pelatihan berbasis kebutuhan industri menjadi penting agar terdapat kesesuaian antara kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan perusahaan.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendapatkan arahan mengenai pentingnya kedisiplinan, ketelitian, kecepatan, serta ketepatan waktu dalam menjalankan pekerjaan.
Khusus peserta yang dipersiapkan memasuki industri rokok, keterampilan teknis seperti mengelinting secara cekatan dan gesit menjadi salah satu kemampuan yang harus dikuasai.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan kerja bukan hanya persoalan memiliki keterampilan teknis, tetapi juga membangun sikap dan budaya kerja.
DPRD Dorong Sinergi dengan Dunia Industri
Dukungan terhadap program tersebut disampaikan Anggota Komisi 4 DPRD Kabupaten Nganjuk Dian Putri Aroma, S.Pd.
Ia menilai program pelatihan gratis yang menggunakan anggaran pemerintah merupakan bentuk investasi sumber daya manusia yang perlu terus dikawal.
“Kami di DPRD, khususnya Komisi 4, sangat mendukung langkah Disnaker yang mengalokasikan DAU 2026 untuk pelatihan gratis bagi masyarakat. Ini adalah investasi SDM yang sangat krusial,” ujarnya.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah, DPRD, dan dunia usaha perlu diperkuat agar lulusan pelatihan tidak hanya memperoleh keterampilan, tetapi juga mempunyai peluang untuk mendapatkan pekerjaan.
Harapan tersebut menjadi penting karena tujuan akhir program pelatihan bukan sekadar terselenggaranya kegiatan, melainkan terciptanya tenaga kerja lokal yang benar-benar memiliki akses terhadap kesempatan kerja.
Tantangan Ada Setelah Pelatihan
Pelatihan selama 15 hari hanyalah tahap awal.
Pertanyaan yang lebih penting justru muncul setelah kegiatan selesai: berapa banyak peserta yang kemudian benar-benar terserap dunia kerja?
Pertanyaan tersebut penting dalam melihat efektivitas penggunaan anggaran publik.
Pelatihan gratis memang membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh keterampilan. Namun keberhasilannya akan semakin terasa apabila keterampilan tersebut berujung pada pekerjaan, penghasilan, atau terbukanya peluang usaha baru.
Karena itu, pola hubungan antara pemerintah daerah dengan dunia industri perlu terus diperkuat melalui konsep link and match.
Mulai dari pemetaan kebutuhan tenaga kerja, penyusunan materi pelatihan, praktik kerja, hingga informasi dan akses rekrutmen, semuanya dapat diarahkan agar lebih dekat dengan kebutuhan nyata perusahaan.
Dengan pola tersebut, pelatihan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi bagian dari ekosistem penyiapan tenaga kerja.
60 Peserta, 15 Hari, dan Harapan Baru
Bagi 60 peserta, 15 hari pelatihan merupakan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan sekaligus mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.
Bagi pemerintah daerah, program ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas tenaga kerja lokal.
Dan bagi masyarakat, keberhasilan program akan lebih mudah dirasakan apabila setelah pelatihan semakin banyak peserta yang mendapatkan pekerjaan atau mampu menciptakan sumber penghasilan sendiri.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan program pelatihan kerja bukan hanya berapa banyak peserta yang hadir dan menyelesaikan pelatihan.
Ukuran yang jauh lebih penting adalah berapa banyak tenaga kerja yang setelah mendapatkan pelatihan benar-benar mampu memasuki dunia kerja, memperoleh penghasilan, dan meningkatkan kualitas kehidupannya.
Dari ruang pelatihan itulah, 60 warga Nganjuk kini dipersiapkan melangkah menuju dunia industri. (Skj)







