Di Balik Ramainya Festival Kuno-Kini: Ketika Panggung UMKM Dipuji, Lalu Dipersoalkan
KEDIRI – Malam-malam di kawasan Simpang Lima Gumul (SLG) selama pertengahan Mei lalu tampak berbeda. Lampu-lampu dekoratif menyala, musik terdengar dari berbagai sudut, dan ratusan stan UMKM berjejer menawarkan aneka kuliner, kriya, hingga produk kreatif khas daerah.
Festival Kuno-Kini 2026 kembali menjadi magnet keramaian di Kabupaten Kediri. Ribuan pengunjung datang setiap hari, menciptakan perputaran ekonomi yang disebut-sebut menjadi salah satu yang terbesar dalam agenda festival daerah tahun ini. Panitia mencatat ratusan pelaku UMKM terlibat, sementara jumlah pendaftar bahkan melebihi kapasitas yang tersedia.
Namun di tengah pujian terhadap geliat ekonomi yang lahir dari festival tersebut, muncul suara berbeda dari sejumlah kelompok masyarakat sipil.
Empat lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang menamakan diri Aliansi Penjaga Garuda Kabupaten Kediri mendatangi DPRD Kabupaten Kediri dan meminta rapat dengar pendapat (RDP). Mereka mempertanyakan pelaksanaan Festival Kuno-Kini 2026 yang dinilai belum sepenuhnya mengakomodasi UMKM lokal. Aliansi tersebut terdiri dari PPI, Semesta Alam Lestari, Pusdamasa, dan Barisan Pengamat Kebijakan Publik.
Festival yang Tumbuh Semakin Besar
Sulit menampik bahwa Festival Kuno-Kini telah berkembang menjadi salah satu agenda ekonomi kreatif terbesar di Kediri.
Tahun ini festival digelar pada 14–24 Mei 2026 di kawasan Taman Hijau SLG. Konsep yang diusung memadukan nuansa tradisional dan modern melalui kuliner, sastra, kriya, wastra, hingga hiburan budaya. Jumlah peserta terus meningkat dari tahun ke tahun. Jika pada 2024 terdapat 215 stan dan 245 stan pada 2025, maka tahun ini panitia membatasi sebanyak 348 stan dari sekitar 500 pendaftar.
Pemerintah Kabupaten Kediri juga memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan festival tersebut karena dinilai mampu mendorong pertumbuhan UMKM dan memperluas promosi produk kreatif daerah. Wakil Bupati Kediri, Dewi Mariya Ulfa, bahkan menyebut festival semacam itu dapat menjadi pemantik semangat pelaku usaha kecil untuk memperluas pasar mereka.
Di sisi lain, tingginya jumlah pendaftar menunjukkan bahwa ruang promosi semacam ini semakin dibutuhkan pelaku usaha.
Ketika Pertanyaan Muncul dari Daerah Sendiri
Justru karena festival semakin besar, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting: siapa yang paling banyak menikmati manfaatnya?
Pertanyaan itu yang kemudian dibawa Aliansi Penjaga Garuda ke DPRD Kabupaten Kediri. Mereka menyoroti dugaan belum optimalnya keterlibatan UMKM lokal dalam festival yang membawa nama daerah tersebut.
Bagi sebagian kalangan, persoalan itu bukan sekadar soal jumlah stan yang tersedia. Lebih jauh, hal tersebut menyangkut pemerataan kesempatan ekonomi bagi pelaku usaha lokal yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
Dalam banyak festival ekonomi kreatif, dilema serupa memang sering muncul. Di satu sisi penyelenggara ingin menghadirkan peserta yang beragam agar acara lebih menarik dan kompetitif. Namun di sisi lain, masyarakat daerah berharap ruang promosi terbesar justru diberikan kepada pelaku usaha lokal yang sehari-hari menggerakkan ekonomi wilayah tersebut.
Antara Prestise Acara dan Akses Pelaku Usaha
Festival Kuno-Kini selama ini dikenal bukan hanya sebagai bazar UMKM, tetapi juga ruang pertemuan budaya, komunitas kreatif, dan hiburan publik. Konsep itulah yang membuat festival terus berkembang dan menarik minat peserta dari berbagai daerah.
Namun semakin besar sebuah festival, semakin tinggi pula tuntutan transparansi dan akuntabilitas penyelenggara.
Publik kini tidak hanya melihat seberapa ramai pengunjung yang datang atau seberapa besar omzet yang tercipta. Masyarakat juga mulai memperhatikan bagaimana proses kurasi peserta dilakukan, siapa yang memperoleh akses, serta sejauh mana pelaku usaha lokal mendapatkan ruang yang proporsional.
Karena itu, kritik yang muncul melalui forum DPRD dapat dibaca bukan semata-mata sebagai penolakan terhadap festival, melainkan sebagai dorongan agar manfaat ekonomi yang lahir dari acara besar daerah benar-benar dirasakan secara merata.
Menjaga Ruang Dialog
Di tengah berkembangnya ekonomi kreatif daerah, perdebatan mengenai keterlibatan UMKM lokal sebenarnya menunjukkan satu hal: masyarakat semakin peduli terhadap arah pembangunan ekonomi daerahnya sendiri.
Festival mungkin telah selesai digelar. Lampu-lampu panggung sudah padam dan stan-stan telah dibongkar. Namun pertanyaan tentang pemerataan manfaat ekonomi masih terus bergema.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan sebuah festival tidak hanya diukur dari ramainya pengunjung atau besarnya transaksi yang terjadi, tetapi juga dari sejauh mana pelaku usaha lokal merasa menjadi bagian utama dari panggung yang dibangun atas nama daerah mereka sendiri. (Red)





