• Beranda
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Redaksi
  • Berita
  • Desa
  • Kabupaten/kota
  • Provinsi
  • Nasional
  • Partai
  • Pendidikan
  • Karir
  • PEMILU/PILKADA
  • DATA
  • Konsultasi Hukum Gratis
edupolitik
  • Beranda
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Redaksi
  • Berita
  • Desa
  • Kabupaten/kota
  • Provinsi
  • Nasional
  • Partai
  • Pendidikan
  • Karir
  • PEMILU/PILKADA
  • DATA
  • Konsultasi Hukum Gratis
No Result
View All Result
  • Beranda
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Redaksi
  • Berita
  • Desa
  • Kabupaten/kota
  • Provinsi
  • Nasional
  • Partai
  • Pendidikan
  • Karir
  • PEMILU/PILKADA
  • DATA
  • Konsultasi Hukum Gratis
No Result
View All Result
edupolitik
No Result
View All Result
Home Berita

Di Balik Ramainya Festival Kuno-Kini: Ketika Panggung UMKM Dipuji, Lalu Dipersoalkan

edu-politik by edu-politik
June 1, 2026
in Berita, Kabupaten/Kota
0
0
SHARES
13
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Di Balik Ramainya Festival Kuno-Kini: Ketika Panggung UMKM Dipuji, Lalu Dipersoalkan

KEDIRI – Malam-malam di kawasan Simpang Lima Gumul (SLG) selama pertengahan Mei lalu tampak berbeda. Lampu-lampu dekoratif menyala, musik terdengar dari berbagai sudut, dan ratusan stan UMKM berjejer menawarkan aneka kuliner, kriya, hingga produk kreatif khas daerah.

Festival Kuno-Kini 2026 kembali menjadi magnet keramaian di Kabupaten Kediri. Ribuan pengunjung datang setiap hari, menciptakan perputaran ekonomi yang disebut-sebut menjadi salah satu yang terbesar dalam agenda festival daerah tahun ini. Panitia mencatat ratusan pelaku UMKM terlibat, sementara jumlah pendaftar bahkan melebihi kapasitas yang tersedia.

Namun di tengah pujian terhadap geliat ekonomi yang lahir dari festival tersebut, muncul suara berbeda dari sejumlah kelompok masyarakat sipil.

Empat lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang menamakan diri Aliansi Penjaga Garuda Kabupaten Kediri mendatangi DPRD Kabupaten Kediri dan meminta rapat dengar pendapat (RDP). Mereka mempertanyakan pelaksanaan Festival Kuno-Kini 2026 yang dinilai belum sepenuhnya mengakomodasi UMKM lokal. Aliansi tersebut terdiri dari PPI, Semesta Alam Lestari, Pusdamasa, dan Barisan Pengamat Kebijakan Publik.

Festival yang Tumbuh Semakin Besar

Sulit menampik bahwa Festival Kuno-Kini telah berkembang menjadi salah satu agenda ekonomi kreatif terbesar di Kediri.

Tahun ini festival digelar pada 14–24 Mei 2026 di kawasan Taman Hijau SLG. Konsep yang diusung memadukan nuansa tradisional dan modern melalui kuliner, sastra, kriya, wastra, hingga hiburan budaya. Jumlah peserta terus meningkat dari tahun ke tahun. Jika pada 2024 terdapat 215 stan dan 245 stan pada 2025, maka tahun ini panitia membatasi sebanyak 348 stan dari sekitar 500 pendaftar.

Pemerintah Kabupaten Kediri juga memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan festival tersebut karena dinilai mampu mendorong pertumbuhan UMKM dan memperluas promosi produk kreatif daerah. Wakil Bupati Kediri, Dewi Mariya Ulfa, bahkan menyebut festival semacam itu dapat menjadi pemantik semangat pelaku usaha kecil untuk memperluas pasar mereka.

Di sisi lain, tingginya jumlah pendaftar menunjukkan bahwa ruang promosi semacam ini semakin dibutuhkan pelaku usaha.

Ketika Pertanyaan Muncul dari Daerah Sendiri

Justru karena festival semakin besar, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting: siapa yang paling banyak menikmati manfaatnya?

Pertanyaan itu yang kemudian dibawa Aliansi Penjaga Garuda ke DPRD Kabupaten Kediri. Mereka menyoroti dugaan belum optimalnya keterlibatan UMKM lokal dalam festival yang membawa nama daerah tersebut.

Bagi sebagian kalangan, persoalan itu bukan sekadar soal jumlah stan yang tersedia. Lebih jauh, hal tersebut menyangkut pemerataan kesempatan ekonomi bagi pelaku usaha lokal yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

Dalam banyak festival ekonomi kreatif, dilema serupa memang sering muncul. Di satu sisi penyelenggara ingin menghadirkan peserta yang beragam agar acara lebih menarik dan kompetitif. Namun di sisi lain, masyarakat daerah berharap ruang promosi terbesar justru diberikan kepada pelaku usaha lokal yang sehari-hari menggerakkan ekonomi wilayah tersebut.

Antara Prestise Acara dan Akses Pelaku Usaha

Festival Kuno-Kini selama ini dikenal bukan hanya sebagai bazar UMKM, tetapi juga ruang pertemuan budaya, komunitas kreatif, dan hiburan publik. Konsep itulah yang membuat festival terus berkembang dan menarik minat peserta dari berbagai daerah.

Namun semakin besar sebuah festival, semakin tinggi pula tuntutan transparansi dan akuntabilitas penyelenggara.

Publik kini tidak hanya melihat seberapa ramai pengunjung yang datang atau seberapa besar omzet yang tercipta. Masyarakat juga mulai memperhatikan bagaimana proses kurasi peserta dilakukan, siapa yang memperoleh akses, serta sejauh mana pelaku usaha lokal mendapatkan ruang yang proporsional.

Karena itu, kritik yang muncul melalui forum DPRD dapat dibaca bukan semata-mata sebagai penolakan terhadap festival, melainkan sebagai dorongan agar manfaat ekonomi yang lahir dari acara besar daerah benar-benar dirasakan secara merata.

Menjaga Ruang Dialog

Di tengah berkembangnya ekonomi kreatif daerah, perdebatan mengenai keterlibatan UMKM lokal sebenarnya menunjukkan satu hal: masyarakat semakin peduli terhadap arah pembangunan ekonomi daerahnya sendiri.

Festival mungkin telah selesai digelar. Lampu-lampu panggung sudah padam dan stan-stan telah dibongkar. Namun pertanyaan tentang pemerataan manfaat ekonomi masih terus bergema.

Sebab pada akhirnya, keberhasilan sebuah festival tidak hanya diukur dari ramainya pengunjung atau besarnya transaksi yang terjadi, tetapi juga dari sejauh mana pelaku usaha lokal merasa menjadi bagian utama dari panggung yang dibangun atas nama daerah mereka sendiri. (Red)

Previous Post

Sapi Kurban Negara dan Pertanyaan tentang Prioritas Keadilan Sosial

Next Post

Dari Tanah Bengkok hingga Masa Jabatan: Suara Perangkat Desa Menggema di DPRD Nganjuk

edu-politik

edu-politik

Next Post

Dari Tanah Bengkok hingga Masa Jabatan: Suara Perangkat Desa Menggema di DPRD Nganjuk

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest

Data Statistik Koperasi Indonesia Terkini

September 16, 2025
RSUD Nganjuk di Persimpangan: Swakelola Rp 900 Juta dan Turunnya Layanan, Menunggu Tindakan Tegas Pemda?

RSUD Nganjuk di Persimpangan: Swakelola Rp 900 Juta dan Turunnya Layanan, Menunggu Tindakan Tegas Pemda?

December 12, 2025
Menghitung Hari akhir kontrak: Sengkarut Hukum dan Izin Lingkungan Tower BTS Balonggading

Menghitung Hari akhir kontrak: Sengkarut Hukum dan Izin Lingkungan Tower BTS Balonggading

January 28, 2026

Gebyar Jaranan Nganjuk 2025: Merayakan Budaya Lokal dalam Parade Hari Jadi ke-1088

May 4, 2025

Cara menghubungi pihak yang berwenang jika terjadi pungli di sekolah

4

Peran pemerintah daerah dalam memelihara kelestarian sumber air

4

Pendidikan Politik Indonesia yang Mencerahkan

0

Peran Pendidikan politik di Indonesia

0
Alih Alih Dikelola Pemdes, Tanah Kas Desa Ngebrak Kediri yang Tanpa Lelang Malah Difungsikan untuk Parkir Truk

Alih Alih Dikelola Pemdes, Tanah Kas Desa Ngebrak Kediri yang Tanpa Lelang Malah Difungsikan untuk Parkir Truk

September 11, 2026
Gantungan Ember dan Rebutan Berkah: Hangatnya Tradisi Maulid di Musholla Fattakhul Ulum 

Gantungan Ember dan Rebutan Berkah: Hangatnya Tradisi Maulid di Musholla Fattakhul Ulum 

September 10, 2026
GOLDEN Baby SPA Hadir di RSUD Ngimbang, Perluas Layanan Kesehatan Ibu dan Anak

GOLDEN Baby SPA Hadir di RSUD Ngimbang, Perluas Layanan Kesehatan Ibu dan Anak

September 9, 2026
Jejak Inovasi dan Kreatifitas SMK Al Huda Kediri di Era Motor Listrik

Jejak Inovasi dan Kreatifitas SMK Al Huda Kediri di Era Motor Listrik

September 9, 2026

Popular Stories

  • Data Statistik Koperasi Indonesia Terkini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • RSUD Nganjuk di Persimpangan: Swakelola Rp 900 Juta dan Turunnya Layanan, Menunggu Tindakan Tegas Pemda?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menghitung Hari akhir kontrak: Sengkarut Hukum dan Izin Lingkungan Tower BTS Balonggading

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gebyar Jaranan Nganjuk 2025: Merayakan Budaya Lokal dalam Parade Hari Jadi ke-1088

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepemimpinan Marhaen Djumadi: Merangkul Semua Elemen Masyarakat Nganjuk

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
edupolitik

Portal berita terpercaya dan akurat

Follow Us

Menus

  • Beranda
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Redaksi
  • Berita
  • Desa
  • Kabupaten/kota
  • Provinsi
  • Nasional
  • Partai
  • Pendidikan
  • Karir
  • PEMILU/PILKADA
  • DATA
  • Konsultasi Hukum Gratis

Recent News

Alih Alih Dikelola Pemdes, Tanah Kas Desa Ngebrak Kediri yang Tanpa Lelang Malah Difungsikan untuk Parkir Truk

Alih Alih Dikelola Pemdes, Tanah Kas Desa Ngebrak Kediri yang Tanpa Lelang Malah Difungsikan untuk Parkir Truk

September 11, 2026
Gantungan Ember dan Rebutan Berkah: Hangatnya Tradisi Maulid di Musholla Fattakhul Ulum 

Gantungan Ember dan Rebutan Berkah: Hangatnya Tradisi Maulid di Musholla Fattakhul Ulum 

September 10, 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Desa
  • Kabupaten/kota
  • Provinsi
  • Nasional
  • Partai
  • Pendidikan
  • Karir
  • PEMILU/PILKADA
  • DATA
  • Konsultasi Hukum Gratis

© 2024 EduPolitik - Portal Berita Terpercaya

No Result
View All Result
  • Beranda
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Redaksi
  • Berita
  • Desa
  • Kabupaten/kota
  • Provinsi
  • Nasional
  • Partai
  • Pendidikan
  • Karir
  • PEMILU/PILKADA
  • DATA
  • Konsultasi Hukum Gratis

© 2024 EduPolitik - Portal Berita Terpercaya