Ketika Perayaan Kuningan Berhadapan dengan Ancaman Kerusakan Lingkungan di Bajulan, Nganjuk 
Nganjuk, edu-politik.com.
Hari Raya Kuningan bagi umat Hindu sejatinya menjadi momentum untuk merayakan harmoni: manusia menjaga alam, dan alam memberikan kesejahteraan sebagai balasannya. Nilai itu hidup dalam dharma—tatanan benar yang menuntun umat untuk merawat kehidupan secara seimbang.
Di Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis, Dusun Curik, Desa Bajulan, Nganjuk, suasana sakral itu terasa pada Minggu (29/11/2025). Umat Hindu setempat berkumpul untuk melaksanakan rangkaian Kuningan, dipimpin oleh pemangku pura, Damri (50). Mereka membawa sesaji, menyiapkan canang, menyalakan dupa, dan memanjatkan doa.
Damri menjelaskan bahwa Kuningan, yang dirayakan 210 hari sekali menurut kalender Saka Bali, melambangkan kemuliaan dan permohonan keselamatan.
“Kata Kuningan berasal dari kata ‘kuning’, simbol kesejahteraan dan cahaya. Pada hari ini umat memohon perlindungan serta kemakmuran kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta para Dewata,” ujarnya.
Tradisi Sakral yang Diapit Suara Mesin Tambang
Di tengah rangkaian doa dan ritual, suara mesin tambang yang terus bekerja terdengar jelas dari kejauhan. Aktivitas pertambangan di wilayah perbukitan Bajulan telah lama memicu kegelisahan warga adat dan tokoh masyarakat. Bukit yang selama ini menjadi penyangga ekologis perlahan berkurang karena digali dan dipapas.
“Kami merawat bumi seperti merawat ibu sendiri. Segala kebutuhan hidup diberikan dari tanah ini: padi, jagung, air, dan udara,” tutur seorang tetua adat.
Kekhawatiran mereka bukan tanpa dasar. Ketika pepohonan hilang, daya serap tanah menurun. Sungai kehilangan kapasitas. Bukit yang gundul menjadi rentan terhadap longsor dan banjir bandang.
Belajar dari Banjir Bandang Sumatra Utara
Warga Bajulan mengingat peristiwa banjir bandang yang melanda Sumatra Utara belum lama ini. Air bah datang tiba-tiba, membawa lumpur, merusak permukiman, serta menelan korban jiwa. Para ahli menyebutkan bahwa salah satu penyebab utamanya adalah hilangnya tutupan hutan di daerah hulu.
Satu kawasan hutan yang terbuka berarti satu sistem penyangga air hilang. Ketika keseimbangan ekologis rusak, alam merespons dengan cara yang tidak bisa dinegosiasikan.
“Kami tidak ingin Kuningan berikutnya dirayakan dalam genangan,” kata seorang pemuda adat sambil memandang area tambang yang semakin melebar. “Kalau aturan alam diabaikan, konsekuensinya pasti datang. Itu bukan ancaman, tapi kenyataan.”
Ritual, Pengingat, dan Tanggung Jawab Bersama
Saat lilin-lilin suci dinyalakan di Pura, warga memahami bahwa cahaya itu bukan hanya simbol harapan. Ia menjadi pengingat bahwa menjaga keseimbangan lingkungan adalah bagian dari laku dharma. Mengabaikannya, menurut kepercayaan Hindu maupun logika ekologis, berarti mengundang risiko.
Kerusakan kecil berujung kerugian besar. Kerusakan besar bisa menagih nyawa. Berapa pun nilai investasi atas nama pembangunan tidak akan berarti ketika bencana menghapus segalanya kembali ke titik nol.
Pertanyaan Penting untuk Bajulan
Pada Hari Kuningan tahun ini, satu pertanyaan menggantung di benak masyarakat:
Di tanah Bajulan, siapa yang sungguh menjaga keseimbangan—dan siapa yang sedang membiarkan risiko menumpuk?
(I.Santoso)







