SMK PGRI 1 Kediri yang Menyalakan Api Inovasi di Tengah Perubahan Pendidikan
Kediri, edu-politik.com — Di tengah perubahan kebijakan pendidikan yang cepat dan dinamis, muncul sosok kepala sekolah yang menegaskan bahwa kepemimpinan di dunia pendidikan bukan sekadar jabatan administratif, melainkan perjuangan ideologis untuk memerdekakan pikiran siswa.
Dia adalah Ibu Yuliawati, S.Pd., Kepala Sekolah SMK PGRI 1 Kediri — lembaga pendidikan vokasi yang semakin dikenal berkat kombinasi disiplin, inovasi, dan semangat kolaboratif yang ia bangun sejak memimpin pada awal tahun 2022.
Dari Guru Fisika Menjadi Nahkoda Pendidikan Vokasi
Perjalanan karier Yuliawati dimulai dari ruang kelas. Ia dikenal sebagai pendidik di bidang Pendidikan Fisika, dengan pendekatan pembelajaran yang logis, eksperimental, dan menekankan pada kemandirian berpikir siswa.
Peralihan dari guru ke kepala sekolah bukan perkara mudah — tetapi bagi Yuliawati, ini adalah panggilan tanggung jawab. “Sekolah kejuruan harus menjadi rumah inovasi, bukan sekadar tempat mencari ijazah,” ujarnya dalam satu wawancara pada peringatan Hari Guru Nasional tahun 2023.
Serah terima jabatan dari kepala sekolah sebelumnya, Drs. Rojiun, pada 2 Januari 2022, menandai babak baru bagi SMK PGRI 1 Kediri. Sejak saat itu, sekolah ini mulai menunjukkan wajah baru: lebih terbuka terhadap perubahan, lebih adaptif terhadap tantangan era digital.
Inovasi Tanpa Henti: Dari PPDB Hingga Gempita Awards
Salah satu terobosan yang paling menonjol di masa kepemimpinannya adalah reformasi sistem PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru).
Di tengah kebijakan zonasi yang kerap menuai perdebatan, Yuliawati mengambil langkah berani dengan membuka jalur prestasi, non-zonasi, dan kuota khusus siswa putri. Kebijakan ini diapresiasi banyak pihak karena dianggap lebih adil dan memberi ruang bagi siswa berpotensi dari berbagai latar belakang.
Tak hanya dalam tata kelola, inovasi juga hadir di ruang kreasi siswa. Pada ajang Gempita Awards 2024, SMK PGRI 1 Kediri tampil sebagai salah satu sekolah yang paling aktif menampilkan karya inovatif — mulai dari desain teknik, teknologi informasi, hingga seni pertunjukan.
“Inovasi bukan milik jurusan tertentu. Setiap siswa berhak menemukan caranya sendiri untuk bersinar,” tutur Yuliawati dengan nada hangat.
Warisan Prestasi yang Terukur
Dalam beberapa tahun terakhir, SMK PGRI 1 Kediri mencatatkan sederet prestasi yang menegaskan posisi sekolah ini di peta pendidikan vokasi Jawa Timur.
Beberapa capaian yang masih dikenang antara lain:
- Juara I Wushu (Sanda Junior Putra) tingkat provinsi,
- Juara II Jujitsu Komite 50 tingkat provinsi,
- Juara III Lomba Pidato dan Cerdas Cermat Kepahlawanan tingkat Kota Kediri, serta
- Juara I Lomba Banjari dan karya tulis populer tingkat kota.
Meski sebagian besar prestasi ini lahir dari proses panjang lintas generasi, Yuliawati menegaskan pentingnya kontinuitas: “Prestasi bukan hasil satu tahun kerja, tapi buah dari budaya sekolah yang dibangun bersama.”
Memimpin dengan Hati, Bukan Sekadar Administrasi
Salah satu ciri khas kepemimpinan Yuliawati adalah keterlibatan langsung dalam setiap kegiatan siswa dan guru.
Pada perayaan Hari Guru Nasional 2023, ia memimpin upacara dengan pesan sederhana namun kuat:
“Guru bukan hanya pengajar, tapi penggerak moral bangsa. Jika kita lelah, ingatlah: tanpa guru, bangsa kehilangan arah.”
Pendekatan humanis ini membuat lingkungan SMK PGRI 1 Kediri dikenal hangat namun tetap disiplin. Para siswa menyebutnya sebagai “ibu sekaligus pemimpin”, dan para guru menyebutnya “rekan berpikir yang memberi ruang”.
Refleksi: Politik Pendidikan yang Membumi
Dalam konteks kebijakan nasional, apa yang dilakukan Yuliawati dapat dibaca sebagai bentuk politik pendidikan yang membumi.
Ia menerapkan prinsip “desentralisasi kreatif” — kebebasan berinovasi di tingkat sekolah tanpa melanggar kerangka regulasi nasional.
Langkah-langkah seperti PPDB inovatif dan pelibatan komunitas sekolah sejalan dengan semangat Merdeka Belajar yang dicanangkan pemerintah, namun dengan nuansa lokal yang kuat.
“Sekolah vokasi seharusnya menjadi laboratorium kebijakan kecil. Dari sinilah kita belajar bagaimana teori bekerja di lapangan,” ungkap salah satu pengawas pendidikan Kota Kediri ketika menilai kinerja sekolah.
Menatap Masa Depan
Memasuki tahun ajaran 2025–2026, SMK PGRI 1 Kediri menyiapkan program baru: integrasi kurikulum proyek berbasis kewirausahaan dan pendampingan industri langsung bagi siswa kelas akhir.
Dengan dukungan tenaga pendidik muda dan kepemimpinan Yuliawati yang kolaboratif, banyak pihak optimis sekolah ini akan terus menjadi barometer pendidikan vokasi di Jawa Timur.
Karena bagi Yuliawati, pendidikan adalah proses panjang — bukan untuk mencari pujian, melainkan membangun peradaban.
“Selama masih ada siswa yang mau belajar, tugas kita belum selesai,” tutupnya dengan senyum yang mencerminkan keyakinan seorang pendidik sejati.
Penulis: Sukaji
Editor: Ahza





