KONTROVERSI DI SMKN PURWOASRI KEDIRI: SERAGAM MAHAL, BESI “TIPIS”, DIDUGA DANA APBN DIGUNAKAN TIDAK WAJAR

Purwoasri, Kediri – 17 September 2025
SMKN Purwoasri Kediri mendadak jadi sorotan publik. Biaya seragam yang ditarik dari siswa mencapai Rp 2.600.000, belum termasuk sumbangan Rp 900.000 dan iuran bulanan Rp 100.000. Jumlah ini membuat orang tua siswa mengernyit, terutama mereka yang kantongnya tak terlalu tebal. Ada yang bergumam, “Seragam sekolah kok harganya bisa setara harga motor bekas?”
Di sisi lain, sekolah menerima bantuan revitalisasi yang nampak sedang dikerjakan ruang kelas baru sebanyak tiga ruang senilai Rp 5,2 miliar, ataukah ada bangunan lain?. Namun, temuan investigasi lapangan mengungkap fakta yang cukup mengejutkan: besi yang dipasang di bangunan campur-campur 10 campur 12 mm, padahal standar konstruksi mengharuskan 16 mm. Ada besi ukuran 16, tapi entah karena rasa malu atau kepraktisan, besi itu justru tidak dipasang.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah bangunan sekuat kardus ini akan menahan aktivitas belajar siswa, atau justru akan menjadi cerita horor di masa depan?
Kepala Sekolah Menghilang, Humas Bicara
Ketika awak media mencoba mengonfirmasi ke Kepala Sekolah Eddy Priyo Utomo, beliau “menghilang”. Hanya Humas Nur Rohim yang bisa ditemui, membenarkan harga seragam dan sumbangan Rp 900.000, namun menyangkal adanya iuran bulanan Rp 100.000. Nada bicara Nur Rohim seolah menegaskan: “Kami tak menipu, tapi kami juga tak jelas.”
Presiden Prabowo Antisipasi Kebocoran
Presiden Prabowo Subianto, yang mengantisipasi potensi kebocoran dana pendidikan, menegaskan:
“Kita harus memastikan setiap rupiah dari APBN digunakan untuk pendidikan yang nyata, bukan untuk membangun gedung rapuh atau membebani orang tua siswa. Dana pendidikan jangan sampai bocor bocor”
Dari Lapangan
Selain masalah besi, pekerja konstruksi juga ditemukan tidak menggunakan perlengkapan keselamatan standar, seperti helm, rompi, dan sepatu keselamatan. Jika ini dibiarkan, bukan hanya bangunan yang rawan, tetapi juga nyawa pekerja yang terancam.
Pertanyaan yang Menggantung
- Bagaimana sekolah menjamin bantuan revitalisasi bangunan digunakan efektif dan efisien?
- Apa langkah konkrit untuk menjamin keselamatan pekerja dan siswa?
- Apakah biaya seragam dan sumbangan ini sejalan dengan prinsip keadilan sosial dan kemampuan orang tua siswa?
Sementara itu, masyarakat menunggu jawaban, sambil berharap APBN benar-benar menjadi investasi pendidikan, bukan sekadar pajangan angka di lembar laporan. (Andik)







