Ketika Suara Anak Tak Didengar, Seorang Ibu Mencoba Bicara Lewat Hukum
Dalam ruang-ruang pengadilan yang kaku dan penuh pasal, terkadang suara paling penting justru tak terdengar: suara anak. Seorang bocah yang belum cukup umur untuk mengatakan, “Saya capek, saya sedang sakit, saya ingin di rumah saja.” Dan itulah yang kini diperjuangkan oleh seorang ibu muda, bukan demi membatasi hak mantan suaminya, tapi demi menjamin hak anaknya untuk tumbuh dengan nyaman.
“Ada kalanya anak saya demam, tapi tetap saja dibawa pergi. Saya tahu dia rindu anaknya. Tapi sebagai orang tua, bukankah seharusnya kita saling jaga dan utamakan kondisi anak?” tuturnya lirih.
Keadilan yang Menyentuh Kemanusiaan
Lewat pengacaranya, ibu ini mengajukan permohonan yang sederhana tapi penuh makna: izin bertemu tetap terbuka, namun membawa anak ke rumah ayah dibatasi — hanya satu minggu dalam sebulan, dengan pertimbangan kesehatan dan kenyamanan anak.
“Anak bukan koper yang bisa ditarik ke mana-mana tanpa bertanya apakah dia siap atau nyaman. Dia punya hak untuk merasa aman, untuk tidak diganggu saat sakit, untuk tinggal di tempat yang membuatnya tenang.”
Hukum memang bicara soal hak asuh, namun di balik itu semua ada kehidupan nyata yang tak bisa selalu diatur dengan pasal-pasal. Ketika anak menjadi korban tarik-menarik, siapa yang benar-benar memperhatikan kebutuhannya?
Tidak Menutup, Tapi Mengatur dengan Cinta
“Saya tidak pernah menutup hubungan anak saya dengan ayahnya. Saya justru ingin mereka tetap dekat. Tapi dengan cara yang sehat dan penuh kasih. Kalau anak sedang flu, demam, atau bahkan kelelahan, beri ruang baginya untuk pulih dulu.”
Ia bahkan membuka kemungkinan untuk tetap mempertemukan anak dengan ayahnya di rumah ibunya sendiri, tanpa batasan, asalkan kondusif. Ia percaya bahwa anak tak seharusnya menjadi alasan untuk memelihara luka masa lalu.
“Saya hanya ingin menjadi ibu yang bertanggung jawab. Anak saya masih kecil. Belum bisa bilang apa-apa. Tapi saya tahu, lewat pelukannya, dia ingin merasa aman.”





