“Ketika Hak Asuh Menjadi Pertaruhan Kesejahteraan Si Kecil”
Oleh: Pujiono
“Anak saya masih kecil, tapi dia harus bolak-balik dalam kondisi sakit, bahkan saat hujan deras. Mantan suami saya tetap bersikeras membawanya, tanpa memikirkan kesehatan anak kami…”
Di balik proses perceraian, seringkali yang paling dirugikan justru adalah anak. Itulah yang dirasakan seorang ibu muda yang tengah memperjuangkan hak asuh anak semata wayangnya. Ia tak pernah menolak sang ayah untuk bertemu anaknya. Namun, baginya, pertemuan itu seharusnya terjadi dengan penuh tanggung jawab dan memperhatikan kondisi sang anak.
Anak yang masih dalam usia dini itu sering kali harus berpindah tempat tinggal, meski dalam keadaan kurang sehat. Bahkan ketika tubuhnya lemah dan cuaca tidak bersahabat, sang ayah tetap membawa anak itu tanpa mempedulikan kesehatannya.
“Saya tidak melarang mantan suami saya untuk bertemu. Tapi tolong, pikirkan juga kenyamanan dan kondisi anak. Jangan paksakan kalau memang sedang tidak memungkinkan,” ujarnya dengan nada sedih.
Kini, melalui gugatan hak asuh yang diajukan ke pengadilan, sang ibu tidak hanya memperjuangkan siapa yang berhak merawat anak secara permanen, tetapi juga mengajukan permohonan agar pertemuan antara anak dan mantan suaminya dibatasi secara wajar.
Permohonannya jelas: agar sang ayah hanya boleh membawa anak ke rumahnya satu kali dalam sebulan selama maksimal satu minggu, dengan syarat tidak sedang sakit atau cuaca ekstrem. Sementara untuk pertemuan di rumah ibunya sendiri, ia tak memberi batasan, asal tidak mengganggu aktivitas atau kenyamanan anak.
Langkah ini bukan bertujuan memutus hubungan anak dengan ayahnya. Justru sebaliknya, sang ibu ingin memastikan hubungan itu tetap terjaga dengan cara yang sehat dan manusiawi, sesuai dengan prinsip “the best interest of the child” yang menjadi dasar utama hukum perlindungan anak di Indonesia.
Dalam perkara seperti ini, pengadilan biasanya mempertimbangkan segala aspek—termasuk kenyamanan emosional, kesehatan, hingga stabilitas psikologis sang anak. Harapannya, keputusan yang akan diambil nantinya benar-benar menjadi solusi terbaik bagi masa depan si kecil.
Karena di ujung semua konflik ini, ada satu suara yang belum bisa menyuarakan keinginannya sendiri: suara anak, yang hanya bisa dirasakan oleh hati seorang ibu.





