“Dokter Spesialis Datang Kapan Saja (DSDKS)”
Di sebuah negeri yang katanya menjunjung tinggi pelayanan kesehatan, ada spesialis baru dalam dunia medis: Dokter Spesialis Datang Kapan Saja (DSDKS). Mereka bukan sembarang dokter. Mereka punya keahlian luar biasa dalam “manajemen waktu elastis”, yaitu kemampuan datang sesuka hati, entah pagi menjelang siang atau siang menjelang sore.
Pasien yang sudah menunggu sejak fajar merekah? Ah, itu kan bagian dari terapi kesabaran! Antrian yang mengular hingga ke parkiran? Itu strategi untuk mempererat silaturahmi antar warga. Yang penting, saat sang dokter akhirnya datang, ia bisa tampil dengan jas putih bersih, wangi parfum mahal, dan ekspresi yang seolah-olah baru saja menyelamatkan dunia.
Di meja pelayanan, seorang pasien mencoba mengeluh soal kesehatannya. “Dok, saya sakit sejak kemarin, kepala pusing, perut mual…” Namun, sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, dokter sudah menyodorkan resep dan berkata, “Minum ini, banyakin istirahat. Berikutnya!” Kecepatan pelayanan seperti ini mungkin terinspirasi dari drive-thru restoran cepat saji.
Sementara itu, di puskesmas lain, seorang dokter lebih sibuk dengan WhatsApp grup arisan daripada pasien. Sesekali ia melirik antrean panjang di luar, lalu berkata kepada perawat, “Bilang aja dokter masih rapat penting.” Padahal, rapatnya adalah diskusi seru soal liburan ke Bali bulan depan.
Yang lebih unik, beberapa dokter juga menerapkan sistem “pasien premium”. Jika pasien datang dengan “salam tempel” (amplop misterius), pelayanan bisa berubah drastis: dari yang tadinya acuh tak acuh, kini penuh perhatian seperti dokter di drama Korea.
Tapi jangan salah, para dokter PNS ini punya banyak alasan kuat: “Kami kekurangan tenaga medis!”, “Gaji kami kecil!”, atau “Kami juga manusia, butuh istirahat!”. Semua alasan ini sah-sah saja, asal tidak lupa bahwa pasien yang datang berobat juga manusia—bukan sekadar angka dalam laporan.
Dan begitulah, sistem kesehatan tetap berjalan, meski sering tersendat. Pasien tetap menunggu, dokter tetap datang sesuka hati, dan birokrat tetap sibuk mencari alasan. Sementara itu, di sudut ruang tunggu, seorang nenek tua masih duduk bersabar, berharap dokter datang sebelum waktu maghrib.





