Melangkah: Meningkatkan Peran Aktif dalam Dunia Pendidikan
Dunia pendidikan di Indonesia menghadapi banyak tantangan, dari ketimpangan kualitas pendidikan di berbagai daerah hingga kesenjangan fasilitas yang membuat proses belajar mengajar menjadi tidak merata. Namun, ada satu hal yang tak boleh dibiarkan: Diam. Dalam situasi ini, setiap elemen pendidikan, mulai dari dewan pendidikan, komite sekolah, hingga kepala sekolah, harus mulai melangkah untuk membuat perubahan yang lebih baik.
Melangkah bukan hanya sekadar bergerak fisik, melainkan juga mengupayakan perubahan menuju arah yang lebih baik, dengan cara yang terencana dan penuh pertimbangan. Saat ada keresahan publik terkait dunia pendidikan di lingkungan sekitar, tidak seharusnya pihak terkait bersikap diam atau hanya manut-manut. Inilah saatnya untuk mengedepankan tiga hal penting: critical thinking, sense of environment, dan sense of behavior.
Sense of Critical Thinking
Dalam dunia yang terus berkembang, setiap anggota masyarakat harus mampu berpikir kritis. Pendidikan bukan hanya soal mengajarkan pelajaran di kelas, tetapi juga bagaimana siswa dapat memahami permasalahan yang ada di masyarakat dan di dunia sekitarnya. Dewan pendidikan dan komite sekolah harusnya mendorong terciptanya suasana di mana kritik yang konstruktif diterima dengan baik untuk menghasilkan kebijakan dan langkah-langkah yang progresif dalam dunia pendidikan.
Sense of Environment
Lingkungan pendidikan juga tak boleh terlepas dari perhatian. Di sinilah peran kepala sekolah sangat vital. Mereka harus punya sense of anderbeni, yakni pemahaman tentang kebutuhan dasar sekolah dan siswa untuk maju. Kepala sekolah perlu menyadari tantangan yang ada, baik itu di sisi infrastruktur, kualitas pengajaran, atau bahkan kebutuhan emosional siswa. Kepala sekolah harus menumbuhkan rasa empati dan perhatian terhadap lingkungan sekitarnya agar bisa memfasilitasi perkembangan siswa secara optimal.
Sense of Behavior
Selain itu, sense of behavior sangat penting dalam membentuk karakter siswa. Pendidikan bukan hanya soal pengetahuan akademik, tetapi juga tentang bagaimana membentuk karakter, moralitas, dan kebiasaan baik di kehidupan sehari-hari. Kepala sekolah, sebagai pemimpin di sekolah, harus memberi contoh yang baik, memiliki sense of tulodo, yaitu kemampuan untuk menjadi teladan yang baik dalam setiap tindakan, agar siswa dapat mengikuti jejak tersebut.
Pendidikan yang Utama
Pendidikan bukan hanya tentang mencetak anak-anak menjadi pintar secara akademis, namun juga menciptakan generasi yang siap menghadapi masa depan dengan moralitas yang baik. Orang tua juga perlu diberikan kemudahan agar bisa menyekolahkan anak-anak mereka dengan biaya yang terjangkau, tetapi tetap memperhatikan kualitas pendidikan.
Seperti yang tertulis dalam falsafah pendidikan Tut Wuri Handayani:
- Ing ngarso sing tulodo: Di depan harus memberi teladan.
- Ing madyo mangun karso: Di tengah harus bisa memberi semangat dan motivasi.
- Tut wuri handayani: Dari belakang harus memberi dorongan untuk maju.
Falsafah ini bukan hanya sebuah ungkapan, melainkan sebuah semangat yang harus diterapkan oleh semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan. Kepala sekolah, guru, orang tua, hingga masyarakat luas, harus bergerak bersama untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pendidikan.
Jangan Hanya Seremonial
Seperti kata pepatah, “Ojo koyo ayam lodo, telanjang bulat, terus hanya sukanya seremonial.” Jangan sampai kita hanya sibuk dengan kegiatan seremonial yang tidak memiliki dampak nyata bagi perubahan pendidikan. Kita perlu bergerak dengan langkah konkret dan berani mengambil keputusan untuk menciptakan pendidikan yang lebih baik, lebih inklusif, dan lebih merata.
Dunia pendidikan membutuhkan gerakan yang nyata, bukan hanya wacana. Mari bersama-sama melangkah untuk memastikan bahwa setiap anak Indonesia bisa mendapatkan pendidikan yang layak, berkualitas, dan dapat mencerdaskan masa depan bangsa.





