Di Balik Jeruji, Semangat Itu Tetap Menyala
Di balik tembok tinggi dan pintu besi Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Nganjuk, suasana yang biasanya sunyi berubah menjadi riuh penuh semangat. Lapangan sederhana yang sehari-hari tampak lengang, kini dipenuhi sorak sorai. Tawa, tepuk tangan, dan yel-yel menggema—menandai sebuah momen yang jarang terlihat: kebersamaan tanpa sekat antara warga binaan dan petugas.
Momentum itu hadir dalam peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62 yang digelar oleh jajaran Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. Namun, peringatan kali ini tidak sekadar seremonial. Ia menjelma menjadi ruang hidup yang menghadirkan harapan, energi, dan kemanusiaan.

Pekan olahraga menjadi panggung utama. Di satu sudut, pertandingan bola voli antar kamar hunian berlangsung sengit. Setiap smash dan blok bukan sekadar soal poin, melainkan luapan energi yang selama ini terpendam. Di sudut lain, papan catur menjadi arena strategi dan ketenangan, mempertemukan pikiran-pikiran yang terlatih dalam diam.

Tak kalah menarik, panggung “WBP Idol” menghadirkan sisi lain para warga binaan. Suara-suara yang mungkin tak pernah terdengar di luar, kini menggema dengan penuh percaya diri. Lagu-lagu yang dinyanyikan bukan sekadar hiburan, tetapi juga medium ekspresi—tentang rindu, penyesalan, hingga harapan untuk memulai kembali.
Yang menarik, batas antara “petugas” dan “warga binaan” seakan mencair. Para petugas pun turut ambil bagian dalam pertandingan bulu tangkis, mini soccer, hingga e-sport. Dalam arena itu, seragam bukan lagi pembeda, melainkan simbol kebersamaan dalam satu semangat: sportivitas.
Kepala Rutan Nganjuk, Arief Budi Prasetya, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar hiburan sesaat. Ada nilai pembinaan yang ingin ditanamkan.
“Ini adalah bagian dari pendekatan humanis. Kami ingin membangun semangat positif, memperkuat kebersamaan, dan memberi ruang bagi warga binaan untuk berkembang, baik secara fisik maupun mental,” ujarnya.
Lebih dari sekadar kompetisi, pekan olahraga ini menjadi refleksi bahwa pemasyarakatan bukan hanya soal menjalani hukuman. Ia adalah proses membangun kembali manusia—dengan cara yang lebih bermartabat.
Di tengah segala keterbatasan, semangat itu tetap menemukan jalannya. Karena pada akhirnya, bahkan di balik jeruji, harapan tidak pernah benar-benar terkunci. (Red)







