
đź“° Atap Sekolah Ambruk, Proposal Perbaikan Amblas di Meja Dinas
Nganjuk —
Atap ruang kelas IV SDN 2 Jatigreges, Kecamatan Pace, resmi menyerah pada gravitasi pada Jumat (24/10/2025) pagi. Untungnya, siswa sedang di luar kelas mengikuti kegiatan Jumat Bersih — kegiatan rutin bersih-bersih sekolah, meskipun yang paling kotor sebenarnya justru sistem penganggarannya.
Sekolah ini sudah sejak Juli 2025 mengirim surat permohonan perbaikan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Nganjuk. Suratnya sampai. Yang tidak sampai hanyalah tindak lanjutnya. Mungkin masih antre di antara proposal seminar motivasi dan pengadaan spanduk ucapan selamat.
Bangunan Tua, Respons Lebih Tua Lagi
Menurut pihak sekolah, bangunan kelas itu berdiri sejak era 1970-an dan terakhir disentuh renovasi tahun 1997, masa ketika Backstreet Boys masih berjaya dan anggaran infrastruktur belum sebesar baliho pejabat.
Kenyataannya, sekolah terus mengirim laporan kerusakan. Namun, surat-surat itu tampaknya hanya mengubah status: dari disposisi menjadi dekomposisi.
Dinas Pendidikan: Kami Bergerak Cepat, Setelah Runtuh
Setelah atap betulan runtuh (bukan hanya harapan kepala sekolah), barulah Dinas Pendidikan bergerak cepat. Mereka datang, memotret lokasi, memberi pernyataan, dan menyampaikan kalimat pamungkas khas birokrasi:
“Nanti akan kami prioritaskan.”
Prioritas entah di nomor berapa — kemungkinan setelah pembangunan gapura, festival seragam adat, dan lomba vlog edukatif.
Untung Tak Ada Korban, Meski Korbannya Banyak
Beruntung tidak ada siswa ataupun guru yang tertimpa runtuhan. Tapi korbannya tetap ada — kepercayaan publik, wibawa kebijakan pendidikan, dan tentu saja, genteng-genteng yang sudah tak kuat menanti anggaran cair.
Sementara tiga ruang kelas kini dikosongkan, para siswa belajar di ruang perpustakaan, mushola, atau ruang guru — tergantung mana yang atapnya belum ikut beropini.
Harapan: Semoga Runtuh Ini Cukup untuk Membuka Mata
Masyarakat berharap runtuhnya atap ini tak hanya jadi konten “turut prihatin” pejabat di Instagram, tapi juga membuka mata bahwa bangunan pendidikan tak bisa ditopang oleh doa dan rapat koordinasi semata.
Kalau memang pendidikan adalah prioritas bangsa, semoga tidak perlu menunggu dinding ikut jatuh untuk dianggap genting.
“Belajar dari runtuhan sejarah, tapi jangan sampai sekolah ikut runtuh karena sejarah tak pernah diperbaiki.”
(I Santoso)






