đź“° Di Ujung Rel Jalan Dhoho: Harapan, Waktu, dan Wajah Kota yang Dirancang Ulang
Oleh Redaksi Edu-Politik.com
KEDIRI — Di tengah denyut nadi Kota Kediri yang kian modern, Jalan Stasiun yang terletak di kawasan Dhoho bagai lembaran tua dalam buku sejarah kota. Kini, lembaran itu sedang digores ulang. Tidak dengan pena, melainkan dengan proyek revitalisasi yang digadang-gadang akan merias wajah kota dengan sentuhan estetika dan kearifan lokal.
Namun, seperti lukisan yang belum rampung, proyek ini dikejar bayang-bayang waktu.
—
Hari itu, Komisi C DPRD Kota Kediri kembali menyuarakan nada waspada. Mereka bukan hanya sekadar “melihat”, tapi memelototi—sebuah diksi tegas yang menyiratkan pengawasan tak kenal lelah terhadap proyek yang belum juga tuntas dimulai, padahal tahun telah berjalan separuh. Jalan Stasiun, yang menjadi gerbang sejarah dan mobilitas, kini berada di persimpangan antara ambisi dan batas waktu.
Ashari, salah satu anggota Komisi C, tak menutupi kekhawatirannya. “Proyek ini prioritas Wali Kota Vinanda Prameswati,” ungkapnya. Pernyataan ini bukan sekadar pengulangan birokrasi, melainkan pesan tersirat: jika ini prioritas, maka kualitas adalah harga mati.
—
Seperti layaknya rel kereta, waktu tidak pernah berhenti. Dan proyek ini seolah sedang berkejaran dengan kereta yang sudah tinggal satu stasiun lagi menuju akhir tahun. Mulainya di pertengahan tahun, lantas apakah cukup waktu tersisa untuk memastikan setiap batu, trotoar, dan ornamen kota ditempatkan dengan rapi, bukan asal jadi?
Komisi C mengingatkan, jangan sampai estetika kota hanya sebatas wajah luar, sementara kualitas fondasinya rapuh. Kota yang sehat bukan sekadar cantik dalam baliho, tetapi kokoh di bawah kaki warga yang melangkah setiap hari.
—
Lebih jauh, revitalisasi ini tak hanya perkara beton dan taman. Ia adalah simbol. Wajah kota adalah cermin niat pengurusnya. Apakah wajah itu sungguh milik rakyat, atau hanya untuk pesta peresmian dan sesi foto singkat? Komisi C berharap, Jalan Dhoho menjadi ikon, bukan ironi.
Dan ketika hujan turun, bukan hanya air yang mengalir, tapi juga waktu. Dan waktu, sebagaimana kita tahu, tak bisa diulang—tak seperti proyek yang bisa dianggarkan kembali tahun depan.
—
Catatan Redaksi:
> Revitalisasi ruang publik adalah pertemuan antara perencanaan teknokrat dan nilai sosial. Edu-politik.com akan terus mengawal narasi pembangunan ini agar tidak menjadi dongeng yang hanya indah dalam rilis media, namun nyata menyejahterakan warga.
—
Tagar:
#RevitalisasiDhoho #JalanStasiun #DPRDKediri #VinandaPrameswati #WajahKota #EduPolitikFeature





