“Bajingan di Mata Orang, Tapi Pahlawan di Rumah: Potret Pengangguran dari Sudut yang Tak Terlihat”
Oleh: Salim
“Hitam belum tentu kotor… putih juga belum tentu bersih. Begitu pun manusia. Kadang yang penampilannya seperti bajingan, belum tentu dia jahat. Kadang yang terlihat alim… justru menyimpan luka yang dalam.”
Pagi itu, jalanan kampung di pinggiran Kediri masih basah oleh embun. Seorang pria bertopi lusuh duduk di warung kopi, mengaduk gula dalam gelas plastik. Tubuhnya kurus, jaketnya sobek di bagian siku. Sekilas, ia tampak seperti “bajingan” dalam pandangan umum — orang yang dihindari, dicurigai, bahkan kadang dihina.
Namanya Agus, 34 tahun. Sudah hampir dua tahun ia menganggur, setelah pabrik tempatnya bekerja tutup akibat efisiensi. Ijazah SMA-nya tak banyak menolong. Wajahnya sering terlihat muram, tapi bukan karena malas. Melainkan karena pikirannya selalu penuh dengan tagihan, sekolah anak, dan harga beras yang terus naik.
Dicap karena Penampilan
“Kadang, orang lihat aku dari tampilan. Dibilang malas, dibilang gak punya arah. Tapi mereka gak tahu, tiap malam aku keluar cari kerjaan serabutan. Pernah narik gerobak, pernah bantuin bangunan, pernah juga ngojek — asal dapet uang buat makan anak,” katanya sambil menatap kosong ke arah sawah.
Agus bukan satu-satunya. Di desa-desa dan gang-gang kecil Kediri, banyak wajah seperti Agus yang luput dari pemberitaan. Mereka tidak viral, tidak heroik seperti kisah motivasi di media sosial. Tapi mereka bertahan — dengan caranya sendiri.
Yang Terlalu Cepat Dianggap Baik
Sementara itu, tak jauh dari situ, ada tokoh masyarakat yang sering tampil di acara keagamaan. Penampilannya rapi, tutur katanya santun, tapi diam-diam meminjam uang dari warga kampung tanpa pernah mengembalikan. Ia disanjung, tapi Agus disingkirkan.
Kontras yang Menyakitkan
“Kita ini suka lihat orang dari baju, dari motor, dari cara bicara. Padahal isi hatinya gak bisa ditebak dari situ,” ujar Pak Budi, pemilik warung kopi tempat Agus biasa duduk. “Agus itu sering bantu warga. Waktu tetangganya sakit, dia yang lari pinjam motor buat bawa ke puskesmas. Tapi siapa yang ingat hal itu?”
Ketidakadilan yang Diam-diam Mengakar
Menjadi pengangguran di negeri ini bukan sekadar tidak punya pekerjaan. Tapi juga tentang bagaimana seseorang perlahan kehilangan harga diri di mata masyarakat, meski hati kecilnya tetap ingin berjuang.
Agus masih berharap suatu saat ia bisa bekerja tetap lagi. Ia bukan pemalas. Ia hanya sedang tersingkir oleh keadaan.
“Aku tahu aku gak sempurna. Tapi aku bukan penjahat. Aku cuma orang biasa yang pengen dihargai karena usahaku, bukan dicap karena bajuku,” katanya di akhir wawancara, dengan suara serak namun penuh keteguhan.
Karena sesungguhnya, dunia ini penuh warna abu-abu. Tidak semua yang hitam itu kotor, tidak semua yang putih itu bersih. Dan tidak semua yang terlihat seperti bajingan… adalah orang jahat.





