Kediri Terpana: Sekolah “Mewah” dengan Fasilitas Klasik Abad 19, Walkot Vinanda “Takjub”
KEDIRI – Dalam peninjauan rutin yang biasa, Walkot Vinanda terpaksa menggeleng-geleng kepala di depan sebuah gedung sekolah yang disebutnya “pameran sejarah hidup”. Gedung yang kini dijuluki warga setempat sebagai “Museum Pendidikan Tak Berlubang”, memperlihatkan arsitektur unik—gabungan antara keangkeran masa lalu dan keusangan masa kini.
Dalam sidak dadakan itu, Walkot Vinanda pun berujar, “Saya kira, ini sekolah atau rumah ratu zaman Belanda? Semuanya sudah klasik, mulai dari dinding retak, jendela yang terlepas, hingga kursi kayu yang tampak seperti warisan nenek moyang.” Menurut sumber tidak resmi, kursi-kursi di ruang kelas dijadikan alat musik ketika angin berembus, menciptakan “konser angin gratis” setiap sore.
Warga pun bersorak, “Akhirnya, sekolah di Kediri bisa jadi destinasi wisata sejarah! Biar anak-anak belajar sejarah sambil menikmati suasana ‘antik’.” Seorang guru yang memakai kacamata tebal menambahkan, “Mungkin kita harus mendaftarkan sekolah ini ke UNESCO sebagai situs warisan dunia, karena ketahanannya yang luar biasa terhadap waktu.”
Pihak sekolah dikabarkan telah mengirimkan proposal inovatif, “Program Renovasi Minimalis: Mengubah Kerusakan Jadi Koleksi Seni Kontemporer.” Ide tersebut, katanya, akan mengintegrasikan retakan di dinding sebagai “lukisan abstrak” yang menggugah jiwa, sekaligus menjadi bukti keaslian bangunan.
Sementara itu, Walkot Vinanda menegaskan, “Kami serius berkomitmen untuk membawa pembaruan, namun kita harus hargai dulu keunikan sejarah gedung ini. Mungkin nanti, setelah renovasi, anak-anak bisa belajar matematika sambil menghitung sisa-sisa plester yang berserakan.”
Di tengah canda tawa dan sorakan satir, masyarakat Kediri menanti langkah selanjutnya dari pemerintah kota—apakah gedung bersejarah ini akan diubah jadi “pusat seni toleransi” atau malah jadi “sarang nostalgia” yang membuat kita teringat masa lalu yang penuh warna? Sampai saat itu, sekolah “mewah” ini tetap jadi bukti nyata bahwa pendidikan di Kediri bukan hanya soal ilmu pengetahuan, tetapi juga soal seni mengapresiasi keindahan kerusakan zaman.





