Mobil Siaga Desa: Antara Kesehatan Warga dan Kesejahteraan Perangkat Desa
Oleh: Eko
Dalam sebuah langkah yang seharusnya memperlihatkan keseriusan pemerintah dalam meningkatkan layanan kesehatan desa, hadir sebuah program mobil siaga desa. Namun, meski tujuan awalnya mulia—yaitu memastikan warga desa mendapatkan akses cepat ke perawatan medis—mobil siaga desa sepertinya malah lebih sering digunakan untuk urusan yang lebih ‘siaga’ bagi perangkat desa.
Ya, Anda tidak salah baca. Mobil yang awalnya dimaksudkan untuk membantu mengangkut pasien darurat atau mereka yang membutuhkan perawatan medis secepatnya, kini lebih banyak digunakan untuk mengantar perangkat desa ke acara pertemuan, hingga sesekali mampir ke warung kopi terdekat. Tentu saja, semua demi “kesejahteraan perangkat desa”. Lagipula, siapa yang butuh ambulans jika sedang tidak ada yang sakit, kan?
“Memang, ada kalanya mobil itu digunakan untuk keperluan medis,” kata Kepala Desa, yang mungkin lebih paham tentang ‘keperluan medis’ semacam kunjungan rutin ke pusat perbelanjaan. “Tapi, ya namanya juga darurat. Kadang darurat itu bisa berarti buru-buru ke luar desa untuk rapat atau ke acara sosial. Lagi pula, kalau nggak dipakai, mubazir kan?”
Sungguh sebuah inovasi yang luar biasa dalam dunia pemerintahan. Jika mobil ambulans di kota-kota besar selalu siap mengantar pasien ke rumah sakit, di desa kita bisa bangga karena mobil siaga desa siap untuk memastikan perangkat desa bisa tiba tepat waktu di tempat acara atau bahkan ke lokasi wisata. Tidak hanya memberi kesan tanggap darurat, mobil ini juga memberikan kesan eksklusif—hanya untuk mereka yang berhak menikmati kenyamanan fasilitas pemerintah.
Namun, meski tujuan pengadaan mobil siaga desa mulia, kenyataan di lapangan terkadang membuat kita bertanya-tanya: Apakah benar mobil ini digunakan untuk masyarakat yang membutuhkan, atau justru lebih sering digunakan untuk perjalanan pribadi? Tak jarang, warga desa yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih merasa seperti penonton dalam drama yang berjudul “Pemerintahan Desa Siaga”.
Dugaan bahwa program ini lebih banyak memberi keuntungan bagi perangkat desa daripada warga pun akhirnya mencuat. Alih-alih digunakan untuk layanan medis atau sebagai sarana untuk mempercepat penanganan penyakit, mobil siaga desa ini lebih sering digunakan untuk “menjaga siaga” perangkat desa agar tidak tertinggal dari acara yang sesungguhnya tidak terlalu mendesak. Apakah ini juga termasuk dalam kategori darurat?
Warga desa yang berharap mobil siaga itu datang cepat saat mereka butuh justru lebih sering mendengar cerita dari perangkat desa tentang perjalanan mereka ke luar desa yang tidak ada hubungannya dengan urusan kesehatan. “Wah, kalau mobil siaga itu ada, bisa langsung jalan-jalan deh,” ujar seorang warga dengan nada miris.
Pada akhirnya, kita semua perlu merenungkan, apakah mobil siaga desa ini memang untuk kesejahteraan masyarakat atau lebih kepada “kesia-siaan perjalanan” bagi perangkat desa? Yang jelas, ada satu hal yang pasti—di desa ini, siaga bisa berarti banyak hal. Mungkin, yang dibutuhkan adalah mobil siaga untuk memperbaiki siaga dari kebijakan yang tidak sesuai dengan harapan rakyat.





